Lihat Kembali 50 First Dates: Buat Lucy Jatuh Hati atau Film Ini Tidak Tayang Sama Sekali

Beberapa film Drew Barrymore adalah salah satu kenangan masa kecilku. Atau lebih tepat kubilang bahwa Drew Barrymore-lah yang membuatnya jadi kenanganku? Dulu aku terobsesi ingin menjadi seperti Drew di Charlie’s Angels (2000). Atau di Never Been Kissed (1999), di mana ia bekerja sebagai jurnalis sekaligus masih terlihat cocok menjadi anak SMA meski usianya 25 tahun. Tapi, suatu hari, aku malah melihatnya berubah menjadi perempuan yang mudah lupa dan punya bekas jahitan di kepala.

Ya, universe yang sedang ditempati Drew kala itu berjudul 50 First Dates (2004).

 

Catatan: Bagian setelah ini adalah bahasan lebih panjang soal hal-hal yang jadi pertanyaanku terkait film 50 First Dates. Hati-hati spoiler! Kadang, jari-jariku tak bisa diajak kompromi.


“50 First Dates” in brief.

Premis film ini, secara sederhana, adalah: Seorang playboy jatuh cinta kepada perempuan yang mengidap amnesia anterograde. 

Sejak awal film dimulai, kita dibuat tahu ada banyak perempuan (dan seorang laki-laki) yang terbuai oleh kisah cinta kilat bersama seseorang bernama Henry Roth (Adam Sandler). Untuk “kabur” dari satu perempuan, Henry memilih untuk mengarang cerita dan menjadikan kepergiannya tampak masuk akal.

Hmmm, sebuah keuntungan baginya di tahun 2004. Kalau Henry melakukannya di tahun-tahun ini, bukan nggak mungkin dia bakal muncul di thread Twitter seorang perempuan di kemudian hari dan cerita film ini nggak bisa berlanjut~

Henry di tahun itu memang hidup aman. Sebagai dokter hewan di Sea Life Park, Oahu, Hawaii, mungkin itu satu-satunya “kesenangan” yang bisa ia dapatkan selain dari kawan-kawannya, Ula (Rob Schneider) dan Alexa (Lusia Strus) , serta Willy (penguin) dan Jacko (walrus) yang dia urus.

Fakta bahwa Henry bahkan nggak bisa menghafal nama teman kencannya (seseorang bernama Linda ia panggil sebagai Lisa!), menjelaskan bahwa hidup, bagi Henry, mung mampir dolan. Cita-citanya adalah berlayar dengan kapalnya, Sea Serpent, menuju Kutub Utara. Henry telah merencanakan ekspedisi ini sejak bertahun-tahun sebelumnya. Dia memang digambarkan sebagai mas-mas dengan dedikasi di pekerjaan yang berbanding terbalik dengan komitmen di bidang asmara.

Henry bertemu Lucy Whitmore (Drew Barrymore) di sebuah kedai di waktu sarapan. Sayang, Lucy ternyata penderita Goldfield Syndrome, sebuah keadaan amnesia anterograde yang didapatnya selepas kecelakaan bersama ayahnya yang sedang berulang tahun (dengan mobil yang menabrak sapi). Lucy koma selama 3 bulan setelah kejadian, dan sejak saat itu, setiap kali ia terbangun, ia selalu merasa hari itu adalah hari ulang tahun ayahnya. Ia tidak bisa menyimpan memori baru untuk keesokan harinya karena di hari berikutnya pun, tanpa ia sadari, akan terlewati dengan pola yang begitu sama.


Apakah mereka sungguhan berkencan 50 kali?

Aku mencoba menghitungnya manual tapi tak berhasil menentukan definisi first date. Di pertemuan pertama Lucy dan Henry, mereka membuat janji untuk sarapan di keesokan paginya, yang kuanggap sebagai first date, tapi toh janji itu tak pernah terjadi karena Lucy kembali ke keadaan “restart“.

Kemungkinan definisi lain first date yang merujuk pada pertemuan paling pertama pun tak selalu mulus. Ada masanya Lucy tak tergapai, ada juga peringatan tegas dari ayah Lucy, Marlin (Blake Clark), dan saudara laki-lakinya, Doug (Sean Astin), yang meminta Henry menjauh. Ia baru mendapat “lampu hijau” setelah Marlin menyadari perubahan pada Lucy. Pasalnya, di hari di mana Lucy bertemu Henry, Lucy selalu kedapatan bernyanyi gembira saat sudah berada di rumah: “Wouldn’t It be Nice”-nya The Beach Boys.

Obrolan yang merujuk pada angka hanyalah soal ciuman pertama Lucy dan Henry. Bagi Lucy, semua ciuman mereka adalah ciuman pertama, sedangkan Henry sudah mencapai kesempatan ke-23.

Entah di kencan keberapa (khususnya dari perspektif Henry), mereka memutuskan untuk mengakhiri seluruh masa “kencan pertama” dan mulai menyusun rencana untuk masuk ke base selanjutnya. Kurasa setelah menikah, judulnya bisa saja berganti menjadi “50 Malam Pertama”.

Omong-omong, aku baru benar-benar menyadari takaran pacaran di luar negeri itu berbeda dengan apa yang biasa kita alami. Dalam film ini, ada adegan Lucy akhirnya tahu bahwa dia terus mengulang hari setiap waktu. Karena ingin tahu penjelasan dokternya terkait amnesia yang dialaminya, Lucy diantar oleh Marlin dan Doug ke pusat rehabilitasi. Henry ikut dalam perjalanan itu dan Lucy bertanya mengenai identitasnya. 

Kata Marlin, menimpali pertanyaan itu, “You’re sorta dating him.” 

Tapi, hey, Henry dan Lucy, kan, hanya bertemu beberapa jam dalam setiap harinya! Itu memang bisa jadi hari kesekian bagi Henry, tapi selalu menjadi hari pertama bagi Lucy. Dalam beberapa jam tersebut, Lucy memang kerap kali menunjukkan ketertarikan (meski kadang juga tidak sama sekali), tapi apakah ketertarikan itu berarti rasa suka yang sejenis dengan perasaanmu kalau setuju untuk terlibat dengan seseorang dalam hal asmara?

Namun, merujuk pada kalimat Marlin, sepertinya memang Henry sudah diizinkan menyebut dirinya sebagai kekasih Lucy, meski ia tak akan pernah tahu apakah dalam keadaan normal Lucy setuju untuk melanjutkan perkenalan itu menjadi hubungan panjang yang serius. Aku agak kesulitan membayangkan seseorang digambarkan bisa mencintai orang lain dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa berpikir, “Oke, mungkin aku harus menjauh sebentar dan kembali ke kehidupan normalku, jadi enyahlah, Orang Asing!” di dalam hatinya.

Tapi, tahu kan, itu kan menurutku. Dan aku bukan Lucy Whitmore.


Penyakit amnesia bernama Goldfield Syndrome yang dialami Lucy, apakah itu benar-benar nyata?

Tidak. Kalau kamu bertanya sekali lagi untuk memastikan, jawabannya tetap, “Tidak.”

Goldfield Syndrome adalah penyakit amnesia fiktif yang diciptakan namanya untuk keperluan film. Namun, ia digambarkan sebagai keadaan yang terinspirasi dari dua penyakit amnesia yang sungguhan ada dan nyata:

Yang pertama, organic amnesia, yaitu kemampuan jangka pendek untuk mengingat suatu hal karena cedera otak. Penderita nggak bisa menyimpan memori baru, sedangkan memori lama, seperti soal masa kecilnya, masih akan berada di kepalanya. 

Yang kedua, psychogenic amnesia, yaitu amnesia traumatis tanpa cedera otak yang mendorong kaburnya identitas seseorang atau sejarah pribadi yang dimilikinya. Dalam kasus yang ekstrem, beberapa penderita akan memilih untuk hidup dengan kepribadian dan identitas baru, mengingat ia tak bisa mengingat apa pun tentang dirinya. 

Dengan informasi ini, kalau 50 First Dates membuat film spin-off bertema sains, mungkin mereka bisa mengangkat perjalanan hidup seorang ahli bernama Dr. Goldfield yang dikisahkan mengidentifikasi Goldfield Syndrome.


Apakah “50 First Dates” adalah film time-loop?

Jangan membayangkan film ini akan menjadi seperti Groundhog Day (1993) atau Sabar Ini Ujian (2020). Tidak ada sensasi time-loop yang kelewat menonjol di sini, mengingat sebagian besar alur cerita berdasarkan sisi dan pandangan Henry Roth yang jelas hidupnya berjalan dengan ritme seperti biasa.

Sesekali kita memang akan lihat bagaimana Lucy duduk di kedai setiap pagi dan memainkan wafel yang dipesannya, setumpuk koran yang khusus dicetak Marlin untuk Lucy, atau usaha Marlin dan Doug untuk mendampingi Lucy mengulang hari. Namun begitu, sisa ceritanya tak berjalan monoton dan bukan repetisi, kok.


Apakah karakter Alexa adalah seorang queer?

Diperankan oleh Lusia Strus, karakter Alexa rupanya banyak menarik atensi penonton. Pasalnya, kita tak pernah diberi tahu secara eksplisit mengenai gender Alexa (ia selalu ditampilkan menggunakan outfit dan gaya rambut yang sama setiap saat).

Reaksi karakter lain soal keambiguitasan ini justru digambarkan sebagai bentuk kurang nyaman seolah ia tak begitu “diterima”. Misalnya, saat Henry menolak ajakannya bercinta karena “tak tertarik pada laki-laki”, yang sebelumnya diiringi suara serupa “jijik” dari walrus di tepi kolam. Atau, saat Henry menolak berkencan dengan seorang perempuan dan malah menyarankan perempuan itu untuk pergi bersama Alexa yang melambai penuh semangat di belakang meja mereka. Si perempuan balas bertanya pada Henry, “Bukankah dia perempuan?” dengan ekspresi bingung dan tak yakin.

Menurut sutradara film 50 First Dates, Peter Segal, karakter Alexa mudah dihadirkan mengingat saat itu film dirilis di awal 2000-an. Penokohan Alexa dan jokes yang menyertainya itu, menurutnya, tentu tak bisa ditampilkan ke hadapan penonton saat ini karena akan memberi reaksi yang berbeda.

Ya, lagian….


Bisakah kita berdamai dengan amnesia anterograde?

Kukira keputusan tokoh Lucy untuk putus dengan Henry di tengah perjalanan sudah jadi pilihan yang paling tepat, masuk akal, dan tak akan merepotkan siapa pun, tapi sepertinya itu hanya karena aku jadi terlalu pesimis (dan logis; seperti film Jennifer Aniston tahun 2006, The Break-Up). Soalnya, dokter yang menangani Lucy menyebutkan bahwa keadaan Goldfield Syndrome tak akan pernah membaik, atau dengan kata lain: Lucy akan selamanya tak mengingat kejadian apa pun selepas kecelakaan yang dulu dialaminya. Keadaan ini agak berbeda dengan penyakit amnesia anterograde di kehidupan nyata yang, menurut beberapa sumber, bisa bersifat permanen, meski ada pula yang hanya sementara.

Akhir dari film ini seolah mengajak kita berdamai pada keadaan tadi dan jadi sedikit tak tertebak, setidaknya bagiku, tapi tetap menimbulkan beberapa pertanyaan: Jadi, mereka serius memberi tahu kita bahwa ada masanya Lucy hamil dan harus terkejut setiap pagi menyadari dirinya akan punya bayi?! Apakah mereka langsung lompat ke adegan penutup di mana bayi Lucy dan Henry tadi sudah berusia anak-anak supaya tak perlu repot-repot menggambarkan keadaan itu?

Tapi, yah, kalau pengandaianku yang barusan itu terjadi, kurasa Henry punya cara sendiri untuk menghadapinya, misalnya dengan memastikan tulisan pertama yang dibaca Lucy saat bangun pagi dalam keadaan hamil tua adalah “Kamu hamil, jangan tengkurap,” atau “You’re pregnant and, no, you’re not Virgin Mary. We did it after the marriage. “

 

Catatan akhir: Tak peduli apakah kamu penggemar Adam Sandler dan Drew Barrymore atau bukan, kurasa kamu bakal menikmati film ini. Karena, dari film inilah, sepertinya kita diminta untuk tahu bahwa perjalanan panjang selalu ada garis akhirnya, meski tak terduga sama sekali. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *