A Quiet Place Part II: Sebuah Review (Berdua)

Menonton konser di pertengahan tahun 2012 kukira jadi satu-satunya momen di mana aku merasa datang secara langsung ke pusat keramaian jauh lebih seru dibanding menyimaknya dari rekaman DVD. Di tahun 2021, keyakinan yang sama datang selepas menonton film A Quiet Place Part II. Disebut sebagai film thriller, film ini seperti jadi “model” film yang layak jadi alasan kenapa kita mesti kembali menonton di bioskop.

Tentu dengan protokol kesehatan, jangan lupa!

Di artikel ini, aku berniat membahas film tadi, tapi tidak sendirian. Temanku, Anggun Munan, adalah penikmat film yang kukenal sejak 2016. Kami sama-sama suka menulis, dan inilah tulisan kolaborasi pertama kami (kalau kamu nggak menghitung beberapa buku yang kami kerjakan di penerbitan tempat kami bekerja 5 tahun lalu, ya!).

Catatan: Bahasan di bawah ini mungkin mengandung spoiler yang tak ingin kamu baca. Perhatikan bahwa urutan jawaban kami adalah: 1) jawaban Anggun, lalu 2) jawaban Lia.


Nonton A Quiet Place (2018) dulu nggak sebelum A Quiet Place Part II (2021)? Kalau ya, gimana perbandingannya menurutmu? Kalau nggak, apa impresi umum yang kamu dapat pertama kali dari film ini?

Ya, saya nonton A Quiet Place (2018) dulu, bertahun lalu. Meskipun setiap film sekuel akan selalu dibandingkan satu dengan yang lainnya, saya rasa setiap filmnya memiliki bekal sendiri-sendiri untuk ditawarkan. Yang, rasa-rasanya kok tidak adil memangkas semua itu hanya untuk dibandingkan mana yang lebih oke. Toh, kita juga benci dibanding-bandingkan dengan saudara sendiri (apalagi mantan, skip!). A Quiet Place (2018)—mari kita sebut selanjutnya sebagai AQP1—sungguh mendebarkan, heroik, dramatis, walaupun juga cantik dan rapi. Sedangkan A Quite Place Part II (2021) ini—atau selanjutnya disebut AQP2—saya lebih senang menyebutnya BADASS: brutal, fearless, namun juga brilian dan mengagumkan.

Di film pertama, kita melihat Lee Abbott (diperankan oleh John Krasinski) sebagai bapak sempurna: cinta istri dan keluarga, cerdas, kuat, tekun, serta sungguh rupawan. One man stand, meskipun peak conflict yang ingin diselesaikan adalah proses melahirkan oleh Evelyn. Jujur saja, seheroik-heroiknya Lee, akting Emily Blunt saat melahirkan tidak akan pernah kita lupakan. So she literally stole the whole movie!

Sedang, di AQP2, setiap langkah yang dilakukan terkesan spontan, penuh keberanian, dan berisiko tinggi. Seperti orang yang ingin berlayar mengarungi samudera, mereka memulai perjalanan dengan kapal yang sebelumnya telah dirancang dengan epik oleh sang Ayah. Namun di tengah perjalanan, badai datang memporak-porandakan kapal tadi dan mereka tercebur ke dalam samudera. Di sanalah kemudian mereka mempertaruhkan sisa kekuatan, keberanian, juga nurani yang masih tersisa.

Di menit sebelum Lee meninggal pada AQP1, dia melakukan komunikasi terakhirnya pada Regan (Millicent Simmonds). Lee, menggunakan bahasa isyarat, berkata, “I love you so much, always”. Di situlah, bagi saya, estafet peran utama diberikan. Karena setelahnya, Regan benar-benar mengambil alih segalanya.

 

Nope, didn’t watch the first movie. Jadi, aku akan cerita impresi yang aku dapatkan sebagai penikmat film kedua tanpa tahu film pertamanya.

Pertama, waktu dengar judul film A Quiet Place Part II, kukira ini jenis film yang bikin para penonton berkontemplasi soal pandangan hidup, pelajaran, filosofi, dan lain-lain. Aku sadar tebakanku salah waktu lihat poster resminya. Walaupun di sana ada Emily Blunt yang kukenal lewat film The Devil Wears Prada sebagai asisten pemimpin redaksi majalah fashion, vibe yang muncul sama sekali berbeda. Nggak ada high heels, nggak ada dress model terbaru, nggak ada tatanan rambut kekinian. Emily, yang di film ini berperan sebagai Evelyn, tampak kuyu, menggendong bayi, dan terlihat penuh tekanan (tentu saja ini lebih dari sekadar tekanan yang diberikan Miranda Priestly!).

Kedua, kurasa film AQP2 ini adalah film yang nggak akan kamu ingin lewatkan untuk ditonton di bioskop. Kamu mungkin bisa menontonnya nanti, di kamar, di layar televisi 32 inch punyamu, atau bahkan layar ponsel, TAPI ketegangan yang film ini punya memang seperti tak tertandingi kalau diputar di bioskop. Waktu nonton, aku juga membeli satu porsi kentang goreng. Namun, selagi filmnya berjalan, tangan pun rasanya berat dan “takut” bergerak untuk mengambil sepotong. Seperti konser penyanyi kesukaan yang seru didatangi langsung, film AQP2 memang punya daya tarik sebesar itu untuk membuatmu duduk di kursi bioskop di sekitar baris C-F bernomor 8-14.

Yah, katanya, sih, itu posisi kursi bioskop terbaik menurut sains~


Film ini memainkan emosi kita, termasuk dalam segi suara karena ada beberapa adegan yang ditampilkan hening total, tapi tiba-tiba kembali ke keadaan normal. Ada yang mau kamu ceritakan terkait keunikan ini?

Film ini sejak awal memang memiliki 2 perspektif, yaitu suara dan hening. Di bumi yang baik-baik saja ini, tiba-tiba datanglah alien yang “dapat mengetahui” melalui suara. Sayangnya, informasi tersebut dapat mengancam nyawa kita. Ya, tanpa alien di AQP pun, informasi yang kita miliki semakin hari dapat mengancam nyawa kita pula.

Sudah sejak lama, bahkan sampai hari ini, teman-teman difabel dianggap sebagai “berkekurangan” atau “memiliki kekurangan.” Disabilitas, disable, ada sesuatu yang kurang dari mereka, ada yang kita “punya” yang “tidak mereka punyai.” Kalau direnungkan lebih dalam, pemikiran ini problematik sekali. Suara membuat mayoritas manusia dapat berkomunikasi. Tapi kita lupa, bahwa mereka yang hening pun dapat berkomunikasi tanpa suara. Tidak ada yang lebih punya, atau tidak punya. Hanya yang lebih berkuasa, yang lebih menentukan.

Lalu perspektif dunia seolah ingin dijungkirbalikkan oleh AQP. Mayoritas yang selama ini merasa normal, mendadak harus beradaptasi seperti mereka yang dianggap tidak nomal (dalam kasus ini: tuli). Bersuara adalah kekurangan, ketidakmampuan seseorang melanjutkan hidup. Sedang mereka yang fasih berkomunikasi dalam hening adalah cara yang ideal, yang membuat tetap dapat bertahan walau dunia porak-poranda.

Mungkin mulai sekarang, kita tidak perlu menganggap teman-teman difabel sebagai orang yang berkekurangan. Karena dunia ini sungguh tempat yang tidak pernah kita kenal.

 

Ini yang kusebut bagian dari “keseruan” AQP2. Hal yang belum pernah kualami, mendadak jadi terasa nyata di banyak sekali adegan. Krasinski seperti mau memberi tahu pada kita bahwa kesunyian bisa jadi “teriakan” yang jauh, jauuuh lebih memekakkan telinga dibanding suara siapa saja.

Tokoh Regan—yang harus kuakui sangat mirip dengan teman kecilku, plus tato— dan Emmett (Cillian Murphy), misalnya. Di pembuka film, di mana para tokohnya sedang menikmati hari yang biasa, dengan pertandingan baseball, Emmett bertanya pada Regan bagaimana bahasa isyarat untuk kata “meluncur”. Siapa sangka di suatu momen berikutnya mereka bertemu, kata “meluncur” tadi dapat menyelamatkan nyawa keduanya saat berada dalam perjalanan menuju tempat gelombang radio berasal.

Buatku, ini adalah adegan yang berkesan karena ternyata komunikasi bukan hanya melalui “suara”, baik yang diucapkan maupun berbentuk isyarat, tapi juga soal kesepahaman kedua belah pihak. Pelajaran yang sama kudapat beberapa menit sebelumnya, tepatnya di adegan Regan meyakinkan Marcus bahwa lagu Beyond the Sea yang mereka dengar di radio adalah kode dari orang-orang yang berhasil menyelamatkan diri di pulau seberang.

Sebuah pelajaran penting yang bisa dihayati oleh siapa saja~


Bukan Evelyn atau Emmett, tokoh kunci di sini justru Regan dan Marcus (Noah Jupe) yang masih anak-anak/remaja. Bagian mana dari eksekusinya yang paling menarik buatmu?

Di menit Regan menyadari bahwa penemuan ayahnya melalui alat bantu dengar Regan menghasilkan gelombang suara yang menjadi kelemahan alien, ditambah minggatnya Regan seorang diri untuk mencari pulau tempat ia menemukan gelombang radio, saya yakin bahwa kali ini the kids would pay this off!

Screenplay yang disusun Bryan Woods, Scott Beck, dan John Krasinski ini sungguh brilian. Tidak seperti AQP1 yang dar-der-dorr dan cepat, AQP2 terkesan lebih matang, kompleks, dan brilian. Setiap evolusi yang tampil sebagai penyelesaian masalah adalah senjata yang dirakit pelan-pelan.

Walaupun langkah yang (di atas) saya analogikan sebagai “mengarungi samudera” terkesan spontan dan brutal, penulis juga tekun menyiapkan hint yang siap meledak di akhir cerita. Maka, berkunjung ke sungai, mencari gelombang radio, membuat alat bantu dengar, bahkan bersosialisasi dengan teman bukanlah hal yang tanpa sengaja dipersiapkan oleh penulis cerita.

Tidak ada adegan yang sia-sia apalagi tidak perlu. Bagi saya, itu eksekusi paling cerdas.

 

Kurang lebih sama! Aku nggak akan melupakan ketegangan waktu menonton bagian yang menampilkan tiga adegan berbeda, tiga ketegangan berbeda, tapi penyelesaiannya ditampilkan bersamaan. Adegan Regan pergi sendirian membuatku berpikir, “Duh, jangan!” saking takutnya. Ternyata, kekhawatiran itu masih harus ditambah dengan kepergian Evelyn untuk mencari oksigen dan meninggalkan Marcus sendirian bersama si bayi. Kadar oksigen yang menipis, dicegat oleh orang-orang aneh di pelabuhan, dan menyamarkan bunyi gerakan diri sendiri dengan guyuran air agar nggak terdengar si alien—semuanya gila. Ini, mah, mau kitanya habis belajar teknik pernapasan yoga juga tetep bakal ngos-ngosan saking paniknya….

Tapi, gimanapun juga, kukira, semua tokohnya mendapat jatah yang sama-sama banyak untuk muncul di layar. Dan, menyenangkannya, semua orang memaksimalkan kesempatan ini, menjadikannya tontonan yang layak dinantikan.


Akhir filmnya rada gantung. Menurut kamu bakal selesai di sana atau akan ada yang ketiga?

Sejak awal, A Quiet Place (2018) adalah film yang mencuri perhatian. Lalu, sejalan dengan histori industri Hollywood, hal ini tentu merupakan pertimbangan besar untuk menjadi peluang yang menjanjikan. Bisa jadi hal tersebut membuat ending film kedua ini memiliki 2 simpulan: tamat atau lanjut. Kamu tentu sudah lihat trailer F9 dan kabar Joker yang sedang digarap, bukan? So what’s new? Lol.

Namun bagi saya, adegan pamungkas yang dilakukan Regan dan Marcus sudah lebih dari cukup untuk menjadikan AQP2 another bomb and I don’t even care if the aliens still exist.

But if Mr. John Krasinski will sit again on that director chair for AQP3, I’m all in.

 

Aku merasa film ini masih akan berlanjut, tapi partner nontonku a.k.a suamiku sendiri—yang tentu lebih jago menganalisis film ketimbang aku—sempat yakin bahwa film ini hanya akan selesai di film kedua. Mungkin sama seperti jawaban Mbak Anggun, apa yang dilakukan oleh Regan dan Marcus sudah cukup memberi akhir yang pantas.

Tapi, kalau sungguhan ada film ketiga, aku rasa itu kesempatan yang bagus. Bagus buat Krasinski, tentu saja, dan bagus buatku juga karena, sekali lagi, aku jadi bisa melihat Millicent Simmonds yang mirip teman kecilku itu. Omong-omong, kami sudah tidak saling bertemu dan bicara sejak 6 tahun yang lalu.


Ah, ada sedikit tambahan!

Oh iya, kalaupun mau mengkritik, saya hanya ingin menanyakan: Mengapa di tengah segala petaka ini, keluarga Abbott memilih memutar otak dan tenaga menyusun cara melahirkan bayi, daripada—you know—melakukan KB? But ya, it’s a movie about keeping life and living after all. Hehe.

 

Formula cerita ini mengingatkanku pada tokoh Lori di serial The Walking Dead. Di tengah serangan zombie, Lori ternyata hamil. Mengingat keadaan nggak bersahabat, Lori berpikir untuk menggugurkannya dengan obat. Namun rencana ini dibatalkannya sendiri. Mungkin ini cara film-film dan serial-serial serupa menggambarkan bahwa keputusan mana saja yang orang tua ambil adalah semata-mata untuk kehidupan anaknya kelak.

Lori dan Evelyn pasti punya jiwa yang sekuat baja sampai rela mengambil risiko sebesar itu.


 

Baca juga esai tentang A Quiet Place Part II oleh penulis favoritku yang sekarang sudah jadi suamiku, Haris Firmansyah, di sini.

3 comments

  1. Tadinya cukup yakin nggak bakal ada film ketiganya. Tapi pas baca-baca, ada kemungkinan film ketiganya digarap.

    Terima kasih Mbak Anggun dan Lia. Lanjut review film The Conjuring yuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *