Menulis Mantan

Kami bersalaman.

“Lia,” kataku.

“Ahmad Dhani,” jawabnya. Atau lebih tepat: dengarku.

“Ahmad Dhani?” Aku bertanya segera. Dia mengangguk. Kami lalu duduk. Mataku berputar, “Masa namanya sungguhan Ahmad Dhani? Kupikir temanku bilang kalau penulis favoritnya yang bekerja di sini bernama Arman Dhani?”

Andai saja aku tidak segugup itu, mungkin otakku bakal berpikir lebih jernih dan membantuku menyadari bahwa aku cuma sedang salah dengar.


Aku pertama kali bertemu Mas Dhani hari itu, di hari wawancaraku untuk masuk menjadi redaktur sebuah media online.

Mas Dhani tidak berada lama di Jogja setelah itu. Di bulan Januari, saat aku benar-benar mulai bekerja sebagai redaktur, dia sudah tidak lagi berbagi meja dengan kami. Rubrik buatannya masih berjalan beberapa minggu dengan aku sebagai perantaranya. Sempat panik rasanya waktu suatu hari dia bilang tak bisa menulis dan memintaku untuk mengisi rubriknya. Bagaimana kalau aku tidak bisa menyampaikan maksudnya dalam tulisan?

Namun pada akhirnya, rubriknya berganti nama dan akulah yang bertugas mengisinya setiap dua hingga tiga hari. Aku membaca banyak tulisan Mas Dhani di sela-selanya, berharap tulisanku tak membuat nama media kami jadi buruk.

sc: pixabay.com

Tiga tahun sekian bulan kemudian, dialog kami tidak lagi sama. Aku memperkenalkan diri sekali lagi pada Mas Dhani, tapi bukan sebagai penggantinya di kantor, melainkan sebagai editor buku terbarunya. Mas Dhani menyambut baik, padahal aku jadi kembali menyangsikan diri sendiri. Bagaimana kalau aku tidak bisa membantunya menyampaikan maksudnya dalam naskah bukunya?

Kali ini, dengan gugup yang lebih sedikit, aku berusaha keras untuk tidak salah dengar lagi, setidaknya dalam hal ini berarti “mendengar harapannya” soal buku yang dirilis bulan Maret ini.


Di paruh awal membaca naskah yang ia tulis, aku sempat merasa sakit kepala mendadak.

Bukan karena tulisannya kacau, melainkan tiba-tiba ada sesuatu yang membuat dadaku berdebar kelewat kencang.

Di sana, di setiap naskah yang ia tulis, ada perasaan besar yang bisa dirasakan. Naskahnya berupa kumpulan surat, yang semuanya ditulis setelah ia mengalami sebuah putus cinta. Aku mengenali rasa penyangkalan, amarah, sampai harapan yang tak putus-putus. Di naskah-naskah awal yang aku baca, aku seperti terlempar ke tahun-tahun lalu.

Banyak hal yang terjadi waktu setahun pertama aku masih menjabat sebagai redaktur di media online di mana aku mengenal Mas Dhani. Aku putus dengan pacarku (waktu itu) di bulan kedelapan bekerja. Lucu sekali, padahal dia adalah alasanku mendaftar kerja di sana; agar kami tidak bekerja di kantor yang sama. Seluruh upaya yang pernah kami lakukan jadi terasa percuma dan sia-sia.

Aku menghadap bagian HR untuk bertanya berapa lama waktu yang diperlukan seorang karyawan meninggalkan kantor setelah mengajukan surat resign. Kau tahu, untuk berjaga-jaga. Aku merasa tidak bisa menghadapi Jogja lagi untuk selamanya. Namun dia menjawabnya dengan memberitahuku bahwa aku diberi waktu seminggu untuk menenangkan diri, bukannya malah berpikir untuk resign. Aku tidak bisa menyalahkannya karena aku kacau sekali waktu itu.

Jadi, selama seminggu, aku memutuskan bekerja dari kamar kosan, meski sudah diberi keringanan untuk tidak menulis. Tapi, sama sekali tidak menulis malah membuatku hampa….

Anehnya, kalau kamu memaksakan diri menulis sambil menangis, tepat setelah kamu menekan tombol “Publish”, kamu akan langsung lupa apa yang baru saja kamu tulis. 

sc: pixabay.com

Selesai menenangkan diri dan mulai berusaha mengikuti ritme kerja seperti biasa, aku merasa harus menulis. Sebuah pikiran personal. Melepaskan emosi. Itulah sebabnya tulisan berjudul “Kepada Kamu, Selepas Patah dan Sia-Sia” lahir. Aku tidak peduli siapa yang membaca, aku bahkan tidak peduli siapa yang bakal menertawainya. Sejak hari itu, menulis perasaan perih menjadi kebiasaanku. Aku menulis lagi bulan November, lalu Desember. Semuanya jelas: supaya sakitnya habis dan kering, supaya aku cuma punya tenaga untuk tertawa di hari-hari normal lainnya.

Menulis soal mantan bukan sekali kulakukan. Dulu sekali, setelah selesai dari hubungan panjang berusia 7 tahun, aku menulis Tanpa Judul di sini. Kalau dibaca, tulisan-tulisan pertama setelah putus rasanya seperti monolog pada diri sendiri yang kubuat serapi mungkin. Kurasa, itu upaya yang bagus ketimbang balas mengata-ngatai mantan.


Mas Dhani menjadikan kisahnya abadi dalam naskah yang apik dan menyentuh.

Semua orang yang pernah patah hati dan ingin kembali berbaikan kurasa bakal merasa terhubung dan sepakat. Perasaan ingin berusaha lagi, perasaan ingin saling menjaga lagi; kupikir itu adalah salah satu hal yang membuat sebagian orang menjadikan mantan sebagai tempat pulang.

Buku terbaru Mas Dhani adalah kumpulan surat. Surat yang pahit karena ditulis sambil menangis, juga sekaligus surat yang manis karena berisi perasaan rindu. Seluruhnya ditulis untuk mantan kekasihnya, meski ia tak mengirimkan secara literal.

Menulis surat memang cara bicara paling menenangkan. Ringan, tapi membuat hatimu lega. Dalam kasus Mas Dhani, mungkin itu satu-satunya cara agar emosinya bisa dirilis, bukan sekadar ditahan dan menyakiti diri sendiri.

Ini membuatku teringat pada aktivitas menulis surat yang pernah kulakukan. Untuk mantan, memang, tapi saat itu kami belum putus. Aku pergi ke luar negeri selama sembilan hari dan, sebelum berangkat, aku meninggalkan sembilan pucuk surat yang ditulis tangan untuk dibacanya. Terima kasih, film Kuch Kuch Hota Hai, sumber inspirasiku. Kuakui itu merupakan hal yang penuh usaha (karena aku bahkan menulis beberapa di antaranya saat sedang makan dan mengikuti perkuliahan), tapi, sayangnya, aku tak bisa melihat bahwa hubungan kami pada akhirnya tak berakhir baik dan surat-surat itu hanya menjadi pengingat akan kemarahan. Tak bisa dihindari, rasa marah hanya akan membuatmu berdoa keras-keras agar pihak lainnya segera mendapat karma.  

Dan, yah, kurasa doanya manjur. Kalau ini memang bisa disebut karma, aku mengalami hubungan yang buruk setelahnya; hubungan yang sudah kusebutkan di atas, di mana aku mendapat izin bekerja dari kamar kosan selama satu minggu penuh karena terlalu berantakan dan tak bisa mengontrol kesedihanku sendiri.

Hubungan yang membuatku sadar bahwa cinta bukan perkara saling berjuang, tapi juga seharusnya saling menghargai.

Mantanku pernah menulis surat, hanya berselang 10 menit setelah kami putus. Dalam suratnya, dia meminta maaf dan menyesal…. Aku membacanya dengan nyeri, tapi anehnya, aku juga merasa lega. 

Akhirnya, aku bebas.

sc: pixabay.com

Surat dan mantan memang dua hal yang melekat.

Mas Dhani menunjukkannya, setidaknya pada dirinya sendiri. Menulis memang bisa jadi bentuk terapi, tapi pilihannya pada bentuk “surat” itu hal yang menarik.

Aku menyukai buku ini. Bukan karena aku jadi editornya, bukan pula karena Mas Dhani penulisnya. Aku menyukai bagaimana Mas Dhani menjadikan lukanya sebagai obat yang sungguhan. Ia menulis meski mungkin orang yang seharusnya membaca tulisannya menganggapnya sebagai hal yang tak perlu, atau orang lain menyebutnya berlebihan. Aku menyukai bagaimana ia tetap ingin sembuh dan menjaga kewarasannya.

Kuharap semua orang tahu bahwa menulis memang membantu menyembuhkan, bahkan jika yang ditulis tak selalu soal kisah-kisah bahagia. Dan juga, kuharap semua orang tahu bahwa kecewa, sakit hati, dan marah adalah hal yang wajar dirasakan seseorang, dan ada banyak sekali hal yang tak akan selalu bisa dipahami orang lain dari luar.

Kami menahannya, menyimpannya, dan itulah kenapa kami butuh mengeluarkannya lewat tulisan.

sc: IG Buku Mojok

 

P.S. Mas Dhani pernah menulis sesuatu, kalimat bijak, tapi cukup sedih tentang mencintai diri sendiri. Suatu hari, aku sedang dalam titik terendah hidupku dan akhirnya menemukan tulisan Mas Dhani tersebut di sebuah twit. Aku merasa ada sesuatu yang hangat dari kata-katanya…. Saking bahagianya, aku membagikan kalimat itu pada seseorang yang belakangan sering mengobrol denganku; teman baik yang tidak keberatan mendengarkan ceritaku dan kadang balas bercerita.

Temanku ini, orang yang aku kirimkan beberapa tulisan Mas Dhani yang aku suka, kini sedang tidur di sampingku.

Suamiku.

 

Cilegon, 15 Maret 2021

Lia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *