#BanyakHalTerjadi dalam Pertemanan: Mengenangnya Adalah Pilihan yang Anggun

#1

Sebelum keretaku berangkat ke Jakarta, seorang teman mengirimkan pesan dan bertanya apakah aku sudah punya kenalan di ibu kota. Aku menjawabnya segera, menceritakan bahwa aku akan tinggal bersama kakakku dan aku tidak tahu apakah itu bisa dihitung sebagai “ya, punya.”

Balasannya kemudian adalah sebuah kontak. Ia mempersilakanku berkenalan dengan kawannya di Jakarta, siapa tahu aku butuh seseorang untuk mengobrol dan bersosialisasi. Sore itu, aku baru tahu bahwa obrolan di aplikasi pesan bisa saja membuatmu terkesan meski ada jarak yang kilometernya hampir sampai ribuan.

Lucunya, kami tidak lagi saling bicara untuk beberapa alasan. Mungkin kelakuanku memuakkan atau aku tak terlalu tahan dengan sindiran. Ada masanya aku merasa ini salahku, ada pula waktunya aku merutuki apa-apa saja yang melingkupi kami.

Dia adalah satu dari sekian yang kubanggakan dari suatu tempat, orang-orang yang pernah kuungah fotonya dengan tulisan penuh pujian seakan-akan aku ingin bilang bahwa merekalah penyelamatku. Kami semua seakan terlalu naif pernah berharap bahwa hal-hal tertentu tak akan berubah, seolah luka tak bakal bisa memengaruhi seseorang.

Aku pernah bertengkar dan berbalas argumen panjang di kolom pesan dengan salah satu yang lain. Saat itu terjadi, semua bahagia dan tawa yang pernah kami tenggak seperti hilang tak berbekas. Yang ada hanya kemarahan dan tak terima, menerka-nerka apakah batas pertemanan memang begitu tipisnya.

Namun, terberkatilah manusia, diberikan hati untuk mencerna. Menjadi kawan lebih berharga daripada lawan. Kami pikir, cara terbaik bertahan hidup adalah dengan berbagi maaf dan berhenti menghakimi.

Ada beberapa malam yang habis di atas kasur angin bersama seorang teman yang manis. Pagi-pagi berjalan kaki, membeli sayur, lalu memasak bekal untuk makan siang di kantor bersama-sama. Aku tidak pernah menyesali satu saja momen bicara dengannya. Kurasa dia perempuan yang tangguh dan aku telah mengetahuinya sejak dia sampai di depan pagar kosku jam 2 pagi.

Dalam beberapa momen bersama-sama, ada malam-malam bernyanyi di bilik karaoke isi 3 hingga 7 orang. Selalu ada yang memilihkan lagu dan aku masih ingat siapa orangnya. Kamu mungkin terkejut kalau kuberi tahu ia adalah orang termuda dalam ruangan kami saat itu, tapi kemampuannya sudah terlihat sejak ilustrasi pertama yang ia buat untuk keperluan kantor.

Tali kacamata yang pernah aku rencanakan beli tahu-tahu datang suatu hari. Seseorang memberinya padaku dan sebenarnya itu jadi hadiah yang menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan lagi apa yang kudapat dalam perihal lainnya: pengalaman menulis dan mengedit yang dipandu seorang ahli.

Waktu sedang bosan, aku pergi ke kedai kopi. Secangkir latte karamel memang menarik, tapi tawaran dari seorang yang lain untuk duduk bersama sambil mengobrol juga tak bisa kutolak. Bagaimanapun, manusia tak ingin diam sendirian begitu lama. Maka, undangan berkumpul dalam kelompok di meja yang sama, memesan kopi, dan bicara banyak hal menjadi kisah yang bisa aku simpan.

Sekarang, semuanya sudah jadi tempat yang jauh. Sesekali telepon dan pesan singkat datang ke ponsel dan obrolan kasual akan terjadi dengan seorang yang paling akrab. Menonton Story satu sama lain di media sosial kini menjadi hal yang bisa aku lakukan tanpa nyeri, tanpa rasa kehilangan dan rindu yang besar, atau keinginan pergi bersama untuk makan soto berisi daging dan kulit ayam.

Itu pernah aku rasakan, dulu sekali, setelah kepergian tahun 2019.

Pada akhirnya, ini seperti permainan bianglala yang berputar tinggi-rendah; tak ada yang tahu mana ujungnya. Orang-orang baru datang silih berganti, hidup berjalan tak bisa berhenti.

Bahkan dari tempat yang jauh pun, kuharap masing-masing dari kami tidak akan berhenti belajar menghargai seluruh emosi dan perasaan manusia.

(source: pixabay.com)

#2

Kakinya dilipat ke atas kursi selagi matanya menyapu layar laptop di hadapannya. Kami berkenalan di jam makan siang dan tak punya firasat bakal menjalani tahun-tahun ke depan dengan banyak cerita bersama. 

Konser tengah malam adalah favoritku karena itu satu-satunya momen pertama menonton live performance di tempat yang sebelumnya kupikir tak akan kumasuki. Kami duduk sampai menjelang subuh setelah semua lagu diputar dan tahu-tahu harus pulang di tengah udara Jogja yang dingin.

Aku pernah juga mendatangi konser dengan seorang yang lainnya, yang berbagi cerita diam-diam di aplikasi pesan, meski kadang-kadang bertemu sambil makan siang. Kami menunggu antrean dengan sabar dan pulang saat Glenn Fredly bernyanyi karena sudah terlalu malam, yang kemudian kami sesali karena tahu tak bakal bisa menyaksikan Glenn bernyanyi lagi setelah kematian menghentikan hidupnya.

Janjian bertemu dan menonton bersama sepulang kerja menjadi andalan, bahkan dengan satu lagi kawan lainnya. Aku diajak menonton film terakhir Avengers padahal tak tahu urutan ceritanya sama sekali. Kurasa temanku cukup sabar, mengingat beberapa kali aku menanyainya siapa adalah siapa dan mengapa adegan tertentu terjadi.

Angkringan tengah malam sempat jadi tempatku duduk dan melepas penat dengan seseorang yang lain yang kukenal di bangku kuliah, lalu bertemu lagi di kantor yang sama, sebelum akhirnya kami punya jalan sendiri-sendiri. Aku lupa nama pemilik angkringannya, tapi sate kulitnya lumayan juga. Temanku suka mengeluh kalau aku menyelipkan lelucon di obrolan kami, padahal aku rasa itu adalah mahakarya luar biasa. Pikirku saat itu, suatu hari, kalau kami tak bisa sering-sering bertemu, mungkin dia bakal merindukan lelucon kering yang kuucapkan asal sambil mengunyah es batu keras-keras.

Tapi dari banyak teman yang menjadi sarang tertawa, ada pula yang hidupnya hangat karena punya sayap. Usianya seperti kakak kandungku dan berada di dekatnya membuatku merasa aman. Aku pernah tidur semalam di rumahnya karena terlalu ambruk dan dia memberiku sepiring sarapan yang membuatku merasa sedang pulang ke rumah. Dari banyak waktu berjalan, kurasa dia bakal jadi ibu yang hebat, yang kalau kamu bertanya tentang apa saja, kamu bakal dapat jawabannya.

Dia pula yang datang dan memperkenalkan seseorang lagi pada kami. Aku pertama kali melihatnya di lapangan badminton dan sekarang sesuatu yang menggelikan teringat di kepalaku, tapi bukan hal yang terlalu krusial. Dia bermain dengan apik, dan ternyata juga bisa menggambar begitu rapi. Setelah hari pernikahanku, dia menggambar fotoku yang terbaik yang bisa kuminta dari fotografer, mengingat aku begitu kaku dan tidak fotogenik.

Seorang yang lain adalah teman sebayaku, datang melalui iklan lowongan kerja setelah aku meminta ratusan kali pada atasanku agar dicarikan partner untuk mengendalikan pekerjaan yang badainya terlalu besar. Kami berteman sampai sekarang, bahkan bersama dua kali dalam dua kantor berbeda. Dia mendengarku dan aku berusaha melakukan hal yang sama. Kami makan ayam geprek di jam istirahat, juga saat lembur hingga waktu isya. Kami pergi ke Jakarta dengan cara yang berbeda, meski sesekali bertemu di Kota Kasablanka atau Pejaten Village sebelum pandemi.

Ada juga satu sudut di Jogja yang tak bakal kulupa karena di situlah tempatku duduk dan menelepon seorang kawan yang sudah kembali ke kota asalnya. Aku terkejut karena kadang-kadang hidup menyesakkan dan melumpuhkan, tapi di ujung telepon sana ia berkata ini tak bakal selamanya. Aku, malam itu, jadi sedikit menyesal kenapa dulu hanya melambaikan tangan kepadanya di hari terakhirnya di Jogja, bukannya memeluk erat-erat sebagai tanda terima kasih.

Menyenangkan kalau mengingat bagaimana sebuah tempat melahirkan banyak cerita berbeda dengan berbagai jenis manusia. Aku pernah tertawa tak berhenti gara-gara seseorang menyemprot pewangi ruangan ke tubuhnya sendiri setelah bilang, “Aku belum mandi.” Aku pernah marah dan menuntut kesal gara-gara sebuah pekerjaan berjalan tapi suaraku tak didengar sama sekali. Tempat ini sedikit aneh, kantor yang saat itu baru dan sedang berkembang. Namun sesungguhnya, dari tempat inilah semua berasal: kesempatan, pertemanan, kepercayaan, pengkhianatan, patah hati, hingga kesempatan kedua yang datang.

Karena sudah berpencar dan tak selalu bisa bertemu pagi hari jam 8 sambil meneriakkan yel-yel, kukira mengirim doa juga sama ampuhnya. Semoga yang terbaiklah yang melindungi mereka.

(source: pixabay.com)

#3

Dari banyaknya kelas terbentuk, aku tidak tahu kenapa kelas terakhir harus berisi enam orang saja. Bahkan, seiring waktu, kami cuma tersisa bertiga; benar-benar hanya tiga!

Keputusan dosen wali membantu kami bergabung dengan kelas lain adalah yang terbaik. Perjalanan menuju toga jadi tidak terlalu sepi.

Ada hari di mana kelas pagi terlalu membuatku mengantuk, tapi kelas siang juga menyiksa karena terkadang aku datang tanpa mandi sejak pagi. Perjuangan mengerjakan tugas kelompok, menginap di tempat satu sama lain, atau sekadar bertukar makeup, semua jadi cerita yang berharga.

Sahabatku datang mengetuk pintu kamar kosanku setiap pagi, memastikan kami berjalan bersama tanpa aku perlu kesiangan lebih lama. Siapa sangka bertahun-tahun kemudian dia kembali datang ke kamar kosku setelah mendengar hidupku berantakan dan dia menolongku perlahan-lahan, dimulai dari membereskan residu air mata di seluruh penjuru kamar.

Sahabatku yang lainnya memastikan aku punya pengalaman lain selain berkuliah dan menggandrungi idola Korea. Kami sama-sama terlibat dalam acara kompetisi golf sebagai LO dan magang di divisi yang sama di bandara. Itu, jujur saja, menjadi pengalaman yang lucu karena kami harus terbiasa berbicara di depan mikrofon selagi semua orang mendengarkan dengan saksama di setiap sudut bandara.

Teman-teman lainnya adalah sederet malaikat yang dikirim Tuhan sejak hari pertama. Bahkan setelah kelulusan dan kami mulai bekerja, selalu ada saja waktu diluangkan untuk pergi karaoke bersama, lalu makan Olive Fried Chicken kalau terlalu lapar. Pada kesempatan lain, kami berkumpul sambil makan malam, meski akhirnya berujung berbagi cerita yang membuat kami merasa seharusnya waktu tak berjalan terlalu cepat.

Kami tak lagi datang setiap hari ke kelas yang sama di kampus yang sama. Tak ada lagi bahasan soal tugas dari dosen atau ancaman untuk segera lulus. Hidup sudah berjalan lebih cepat dari yang kami kira.

Dari banyaknya hal yang terjadi, mereka akan selalu layak mendapatkan hal-hal spesial dari kehidupan yang penuh kejutan.

(source: pixabay.com)

#4

Di dunia ini, sangat mungkin seseorang punya seribu orang teman, meski hanya tiga orang saja yang rutin berkomunikasi. Tapi kurasa itu bukan masalah, toh kamu akan selalu mengingat bagaimana teman-temanmu membuatmu menikmati hidup.

Di kelas 11, misalnya, kamu mungkin bakal mengira aku mengada-ada, tapi dua orang kawanku bakal menunggu setiap pagi di ujung tangga hanya untuk memberiku bedak wajah. Bagi mereka, usia 16 tahun sudah cukup jadi patokan untuk mulai sedikit bersolek.

Seorang kawan yang lain memberiku pinjaman alat pencetak agar memudahkanku menyebarkan undangan ulang tahun yang bakal kugelar bersama teman yang berjarak usia dua hari. Si pemilik alat pencetak adalah seseorang yang dengannya aku pernah membeli boneka pinguin yang sama, hanya dengan berbeda warna. Meski dipisah jarak, aku selalu tahu dia tak bakal jadi orang yang asing, dan rasanya menyenangkan punya teman yang demikian pentingnya.

Kamu mungkin juga sepakat kalau kubilang teman-teman yang datang dari dunia digital tak kalah solidnya. Ada sebuah grup yang kudatangi setiap hari sepulang sekolah, lalu tahu-tahu kami menjadi seperti saudara. Seseorang dari kami sempat mengoceh pindah ke Prancis dan mengirimkan foto Menara Eiffel yang ia klaim sebagai pemandangan dari jendela kamarnya, tapi kami tak peduli bahkan jika benar ia membual. Kebersamaan setiap sore kala itu menjadi obat mujarab untuk bertukar pikiran dan mendapatkan sahabat.

Di sekolah, kamu mungkin mendapat banyak teman. Aku bergerombol di kelas 10 dengan beberapa kawan dan kami selalu pergi bersepeda ke pantai hari Minggu pagi. Ada bapak tua memarahi salah satu dari kami karena bernyanyi terlalu berisik, tapi kami tak balas mengumpat karena kejadiannya kelewat lucu.

Di kelas-kelas sebelumnya, aku bertemu seorang teman yang kukira tak bakal bersikap baik, mengingat kami seperti dua kubu yang berbeda. Meskipun kepopulerannya tak bisa kusaingi dengan cara apa pun, menyenangkan kalau mengingat kami sering menghabiskan sore bersama berkeliling kota, meski ayahku harus dibujuk sedikit lama untuk membiarkan temanku mengendarai sepeda motor di usia yang belum cukup.

Bicara soal “belum cukup”, aku pernah merasa belum punya cukup kenangan dengan seorang kawan yang pindah ke luar kota di kelas 2 SD. Tapi, voila, dia kembali di kelas 7 SMP dan mengunjungiku secara teratur setiap istirahat. Kami tidak berbicara kemudian setelah masuk ke kelompok pertemanan berbeda, tapi kembali bertemu dan membuat janji untuk jalan berdua hampir 10 tahun kemudian.

Ada banyak hal terjadi dengan seragam sekolah yang menempel. Aku rasa, yang terjadi di bangku sekolah sedikit banyak memengaruhi bagaimana kita mengambil keputusan di masa depan. Dan, jika itu adalah benar, aku merasa beruntung telah menempuhnya dengan orang-orang yang baik.

(source: pixabay.com)

#5

Pada semua orang yang namanya selalu ada di daftar kontak dan telepon, bertukar kabar dan cerita dari kota yang berbeda; Cilacap, Jogja, Bandung, atau Jakarta, aku tahu kalian akan selalu baik-baik saja.

Selalu baik-baik saja.

 

 

Cilegon, 2 Februari 2021,

Terima kasih sudah menjadi temanku, 

Lia. 

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *