Selagi Kami Mencari Minimarket di Bandung

Tidak pernah benar-benar duduk dan memikirkan ini sebelumnya: Bagaimana aku menjelaskan riuh kepalaku, tentang seluruh isinya yang berantakan?

Kemarin sore, Bandung dingin sekali dan kami baru saja tiba dari Cilegon. Undangan pernikahan datang buat Mas Haris, sejak sebulan lalu, dari seorang kawan blogger-nya yang selama ini berinteraksi di dunia maya. Kami sepakat datang dan sudah menanti hari ini tiba karena, kau tahu, kami butuh waktu untuk sejenak melupakan laporan kantor dan tumpukan pakaian yang harus disetrika.

Sudah lama sekali sejak aku datang ke Bandung sebelumnya. Ini bagian yang belum pernah kujamah, atau aku cuma lupa dan tak bisa mengingatnya dengan detail. Tapi bagus juga, malam itu kami malah menemukan seporsi bakso yang menyenangkan perut kelaparan.

Seorang ibu berkostum badut Masha sedang memeluk anak laki-lakinya di pinggir pom bensin. Kami mampir karena butuh Yakult dalam etalase Circle K. Menghabiskan sebungkus keripik sebentar, sebelum akhirnya berjalan kembali ke hotel. Berdebat soal seorang laki-laki di trotoar: Apakah dia penjaga warung minuman atau bukan? Tebakanku salah; Mas Haris menang.

 

source: pixabay.com

 

Kami duduk di lobi waktu kawannya datang. Aku pikir, ini pertemuan yang menarik. Mereka belum pernah bertemu langsung, tapi sekarang sudah saling bicara. Aku melihat pintu masuk lobi dan jadi bertanya-tanya bagaimana rasanya kalau tahu-tahu temanku sendiri yang datang. Cukup menyedihkan ternyata kalau berpisah terlalu lama dengan sahabatmu; melihat sepasang kawan berbincang saja bakal membuat cemburu.

Jadi mereka berdua masih bicara. Aku mendengarkan baik-baik sambil sesekali melihat Mas Haris. Masih tidak percaya kami sudah menikah (baru) 5 bulan. Masih tidak percaya aku pernah memintanya menjauh dan mencari perempuan lain. Masih tidak percaya aku pernah merasa sangat terancam karena semua kata-kata dan tulisan dari seseorang di masa lalunya. Membuat diriku sendiri mempertanyakan kelayakanku, kemampuanku menulis, mengamati film, atau sekadar berperut rata (yang kemudian membuat kami menyadari bahwa sebuah kalimat bisa berarti lain bagi sebagian orang). Masih tidak percaya kami berhasil melewatinya dan tidak ada penyesalan sama sekali di sini.

Mereka masih berbicara banyak, banyak sekali, dan aku masih dengan senang mendengarkan. Seluruhnya membuatku bertanya-tanya soal pertemuan dan perkenalan di dunia online. Mas Haris, kurasa, mengingatkanku pada apa yang pernah kujalani sendiri.

Mas Haris menulis di note Facebook dan menambahkan pertemanan dengan penulis-penulis yang namanya ia baca di toko buku. Bergabung dengan banyak Komunitas Penulis. Mencoba peruntungan di banyak lomba. Gagal menang, tapi menarik perhatian penerbit mayor yang terlibat hingga dijanjikan bukunya terbit. Bergabung dengan komunitas blogger, lalu memulai blog sendiri dengan nama pribadi. Akhirnya, bertemulah ia dengan banyak penulis blog lainnya: aku pernah dengar beberapa namanya cukup sering.

Satu-satunya komunitas online yang aku tempati, di sisi lain, tidak ada hubungannya dengan menulis. Kami hanya teman satu grup di Mig33 dengan nama room “Harry Potter”. Aku berteman dengan sebagian besar penghuni grup hingga hari ini, meski banyak di antaranya sudah tak lagi bertegur sapa. Tidak ada undangan pernikahan. Kami menjalani hidup sendiri-sendiri setelah, kurasa, circa 2011-2012.

Hari ini dua kawan Mas Haris menikah dan kudengar seluruhnya menulis blog. Ini kabar gembira dan kami hampir turut menangis terharu waktu tadi pagi ijab kabul dilaksanakan di Bandung, di akad pernikahan salah seorang di antaranya.

Entah bagaimana ini membuatku berpikir soal perkenalan online. Bertemu karena komunitas daring. Komunikasi lewat pesan pendek dan tulisan. Menjadi dekat sebelum bertemu. Atau, lebih jauh: jatuh cinta sebelum bertemu. Digital love.

source: pixabay.com

Kami punya riwayat berbeda tentang digital love. Panjang, tapi berujung pada pemahaman berbeda: aku tak bakal mengamininya, sedangkan Mas Haris berpikir itu bukan tindakan yang buruk. Mungkin karena sudut pandang, tapi kami punya alasan sendiri-sendiri, yang kemudian membawa kami ke lebih banyak kompromi. Kami sepakat bertemu lebih dulu untuk berdiskusi apakah hubungan pertemanan kami bisa dibawa ke tahap yang lebih tinggi. Kami menyelesaikan sakit hati dari hubungan sebelumnya dalam cerita-cerita sampai tengah malam dan telepon pengantar tidur. Kami mengenal diri masing-masing lewat cara yang kami pikir tak menyakiti satu sama lain.


Ada banyak hal yang terjadi di kepalaku hari ini, tapi salah satunya adalah film WW84 yang tempo hari kami tonton di bioskop. Mas Haris menikmatinya sebagaimana film superhero, sedangkan aku malah mengingat novel Haruki Murakami berjudul 1Q84. Tahun 1984, menurut dua tokoh utama di sana, adalah tahun yang aneh dan penuh tanda tanya. Itulah sebabnya mereka menulisnya dengan huruf Q, untuk melambangkan question mark.

WW84 punya lebih banyak question mark, kurasa. Bagaimana sebuah keinginan malah menghancurkan diri sendiri? Entahlah, tapi adegan Diana Prince melepaskan impian soal hidup bersama dengan kekasihnya lagi cukup membekas buatku.

Bahwa ia sebelumnya memohon untuk bertemu di kesempatan kedua, memulai semuanya kembali tanpa masalah dan kesepian. Namun setelah menyadari mimpinya ikut andil dalam kekacauan dunia, ia harus melepas harapannya.

Mungkin itu bagaimana akhirnya kami bertemu, aku dan Mas Haris. Kadang aku berpikir apakah ini sekadar pikiran yang berlebihan atau balasan dari alam. Maksudku, aku tahu rasanya benci dan tidak menyukai kebahagiaan orang lain yang kurasa pantas mendapat balasan. Tapi, merasakan posisi sebaliknya di kemudian hari membuatku berubah pikiran: Tak ada gunanya berkoar-koar soal kebencian, merutuki nama seseorang, atau terus-terusan menyayangkan kegagalan dari apa yang kita anggap seharusnya jauh lebih tepat daripada takdir.

Ini mungkin bukan soal Mas Haris, tapi isi kepalaku yang suka berlari-lari. Sekarang, setiap melihat matanya atau sekadar merasakan tangannya menyentuh tanganku, aku lega setengah mati. Kurasa, tak ada yang lebih tepat waktu dari kedatangan kami di hidup masing-masing.

Bagiku, ini seperti jalan yang menyenangkan. Pertemuan kami yang tidak 100% romantis, komunitas online berbeda, atau kata “seharusnya” yang luruh dari masa lalu, bukan masalah besar.

 

Kami bertemu karena kami memang harus bertemu. Silakan pahami kalimat ini sampai kamu mengerti.

 

P.S. Teman Mas Haris sudah menikah tadi pagi, 19 Desember, dan kami sudah merayakan kegembiraannya.

 

 

Bandung, 20 Desember 2020, Pukul 00.48

Lia

(Menulis #MalaMinggu sampai tengah malam setelah tadi berjalan kaki mencari minimarket berdua) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *