Bukankah Kita Cuma Manusia Biasa?

Ada 32 langkah mengobati patah hati di sebuah laman internet, sementara kamu bisa menemukan 7 langkah lainnya di laman yang lain. Putus cinta, bagi sebagian orang, adalah salah satu kemungkinan psikis seseorang bisa terganggu dan itulah sebabnya kamu tak bisa selalu menganggap kehilangan kekasih sebagai hal yang sepele.

Tahun lalu dan dua tahun lalu adalah bukti. Aku merasakan sendiri bagaimana apa yang dijaga setengah mati hilang begitu saja. Kalau kau tanya rasanya—saat itu—aku mungkin cuma bisa tertawa sepuluh detik; terlalu bodoh untuk dibicarakan, tapi terlalu melelahkan untuk dipendam.

Kehilangan tak pernah mudah untuk siapa saja; bukan cuma kamu, tapi juga orang-orang lain di sekitarmu, atau di pinggir jalan yang tak sengaja kamu lewati, atau orang asing yang sedang membaca tulisanmu sepintas lalu. Hanya saja, kepergian seseorang kadang tak bisa kamu cegah dan kadang-kadang—akuilah—itu hal terbaik yang (seharusnya) terjadi.

Bahwa kamu sakit hati, itu benar dan perasaanmu tentu saja valid. Tapi, kenapa kamu harus terus-terusan merutuki kenangan masa lalu yang muncul di kepalamu? Kenapa kamu harus terus-menerus menertawakan kebodohannya yang melepas tanganmu demi jalan yang sama sekali berbeda? Kenapa kamu harus terus-terusan menyebutnya bajingan dan menolak memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Kenapa kamu harus terus-menerus menghukum dirimu sendiri?

(source: www.pixabay.com)

Tahun lalu dan dua tahun lalu adalah bukti. Aku merasakan sendiri bagaimana pengkhianatan dan kebohongan itu sungguhan ada di dunia ini. Kalau ini menyenangkanmu, ketahuilah: aku juga pernah membenci, muak, berharap karma datang dalam satu menit, bersuara lewat banyak tulisan putus asa…. Tapi, yang perlu kamu ketahui pula: ada batasnya—ada paragraf terakhir yang menandai waktunya telah cukup; sakitmu masih basah, tapi ada juga orang-orang yang perlu kamu hargai.

Memaafkan adalah yang tak lebih mudah dari rasa kehilangan. Kamu mungkin selamanya tak akan mengampuni orang yang membuatmu merasa tidak lebih baik, tapi apa gunanya? Apa kebahagiaan yang kamu dapat dari menyerang apa dan siapa yang sekarang sedang duduk bersamanya di sofa ruang tengah?

Tidakkah itu sedikit menggelikan; menutup mata dan menganggap siapa saja di dekatnya adalah musuh yang harus kamu kutuk, bahkan hingga perkara paling kecil—misalnya tanggal ulang tahunnya?

(source: www.pixabay.com)

Aku pernah menangis dan, tentu saja, kesakitan setengah mati. Aku juga tahu tidak akan ada alasan yang tepat untuk menganggap luka orang lain hanyalah luka yang sederhana. Tapi, kau tahu, orang-orang bisa berubah dan memang akan berubah.

Ayolah, bukankah kita semua cuma manusia biasa?

 

Jadi, kurasa: semoga hidupmu bahagia.

 

Cilegon, 30 Oktober 2020

Lia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *