Jauh-Jauh ke Cilegon: Kupikir Sunda, Ternyata Jawa?

Kalau menikah bukan dengan orang Cilegon, kurasa aku tak bakal tahu ada bahasa Jawa dengan dialek Banten atau disebut juga dengan bahasa Jawa Serang (Jaseng). Kupikir, orang-orang di Provinsi Banten seluruhnya bicara dengan bahasa Sunda. Tapi, yah, namanya juga masih minim pengetahuan: tebakanku salah!

Di Banten, ada dua bahasa daerah yang dipakai: bahasa Sunda dan bahasa Jawa Serang. Suamiku, asli Cilegon, berbicara sehari-hari dengan bahasa Jawa Serang tadi yang, sayangnya, kadang-kadang membuatku berpikir tiga ribu kali dulu untuk mencerna kalimatnya.

Kalau anaknya Iron Man bilang, “I love you 3000,” kurasa aku lebih cocok bilang, “It’s hard to understand 3000. Bahasa, please.”

Kalau kamu bertanya kenapa, biar kuceritakan. Bahasa Jawa Serang punya dialek yang berbeda dengan bahasa Jawa di Jawa Tengah dan Jogja. Sekilas, memang terdengar mirip dengan dialek asliku di Cilacap, yaitu Ngapak atau Banyumasan (baca tulisanku soal bahasa Ngapak di sini). Tapi, setelah didengarkan kembali, ternyata beda. Bahasa Jawa Serang lebih mirip logat Cirebonan.

Perbedaan sederhana lainnya antara bahasa Jawa yang kukenal dan yang suamiku pakai adalah kata sapaan. Di Cilacap dan seluruh Jawa Tengah, Timur, hingga Jogja, umumnya kami menggunakan sapaan Mas dan Mbak. Di Cilegon, kami dipanggil Teteh dan Aa yang terdengar sangat-Sunda dan juga identik dengan acara di Indosiar.

Eh, tunggu… Itu mah acara Mamah dan Aa!

Kesukaan ibu-ibu abis Subuhan (source: www.dailymotion.com)

Di Jawa, umumnya, kata-kata yang ditulis dengan huruf “a” dibaca “o” atau tetap dengan “a” di beberapa daerah (misalnya: pira dibaca piro, atau tetap pira dengan dialek Banyumasan). Di Cilegon, aturannya berbeda. Lain ladang memang lain belalang. Lain provinsi, lain dialek. Alih-alih dibaca “a”, kata-kata tadi dibaca dengan huruf “e” seperti huruf “e” pada kata “tempat” (misalnya: pira dibaca pire). Seorang kawan berkomentar pendek setelah aku menceritakan keunikan ini: “Kayak bahasa Melayu-nya Upin Ipin, dong?”

Kalau dipikir-pikir, benar juga. Kalau dibayangkan, duo botak gemas ini berpose di televisi sambil berkata, “Halo! Kule Upin, iki Ipin. Sire arane sape?”

Mana jagoan sire? (source: www.idntimes.com)

Jadi, gimana ceritanya sampai-sampai Serang dan Cilegon berbahasa Jawa, bukannya hanya Sunda?

Kisahnya panjang dan terjadi di waktu lampau yang lama sekali. Ini, tentu saja, berhubungan dengan Cirebon yang jaraknya sekitar 300 kilometer dari Cilegon. Pada suatu waktu, Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati, sang Sultan Cirebon Kedua, mengalahkan Banten. Adanya Kerajaan Banten kala itu adalah hasil gabungan dari pasukan Cirebon dan Demak di pesisir utara Pajajaran. “Perkawinan” bahasa Jawa dan bahasa Cirebon inilah yang kemudian bercampur lagi dengan bahasa Sunda setempat sekaligus bahasa Betawi di daerah sekitar. Hasilnya?

Tentu saja: the one and only bahasa Jawa Serang.

Mencerna percampuran bahasa be like…. (source: www.pixabay.com)

Seperti bahasa daerah lainnya, ada tingkatan bahasa Jawa Serang, yaitu kasar dan halus (bebasan). Jadi, kurasa, apa yang penggunanya katakan pada teman sebaya tak melulu sama dengan bagaimana mereka mengatakannya pada orang yang lebih tua. Penggunaan tingkatan ini juga mirip dengan bahasa Jawa. Misalnya, kata ora (yang dibaca ore) memiliki versi bebasan-nya sendiri, yaitu boten atau dalam bahasa Inggris disebut bored.

Sayang, meski unik, dialek Banten ini dianggap kuno. Tak terlalu banyak anak muda yang menggunakan bahasa Jawa Serang. Waktu aku memutuskan untuk menulis sebuah naskah di McD pagi-pagi, orang-orang yang datang hampir seluruhnya berbicara elo-gue. Itu jelas bukan masalah, tapi kurasa mereka juga nggak mungkin mengucapkan kalimat serupa, “Ih, elo arep ning endi? Aje memengan bae, dong, Bro!”

Tapi, perlu diakui juga, ketidakseringan generasi muda berbahasa daerah bukan cuma jadi masalah yang muncul di Cilegon saja, kok. Bahasa itu, kan, identitas. Bisa jadi, orang-orang ini hanya sedang ingin memunculkan persona kekinian yang jelas tak bakal cocok kalau tiba-tiba dia bicara bahasa daerah. “Bisa-bisa diketawain!” pikirnya.

Sebenarnya, pikiran begitu itu, kan, keliru. Tapi, kalau dirunut lagi, pasti ada saja orang-orang yang rese hingga stadium sejuta. Setiap ada yang berbicara dengan bahasa Jawa, pasti langsung dijadikan lelucon dan diiringi tawa. Jangankan yang sudah berbicara, orang yang sedang diam-diam saja pun bisa diganggu. Biasanya, dimulai dengan pertanyaan, seperti: “Kamu dari Cilacap, ya?” sebelum ditanya kembali, “Bisa ngomong Ngapak, dong?”

“Ya, bisa.”

“Coba, dong, ngomong ‘Nyong kencot.’”

Nyong kencot.”

“HAHAHAHA! LUCU BANGET HAHAHAHA.”

Kalau pola di atas selalu terjadi, memangnya orang-orang bakal merasa nyaman menunjukkan logat dan dialeknya sendiri-sendiri?

Kurasa ini cukup dilematis: manusia, kan, ada yang tahan banting, tapi ada juga yang malas berpanjang-panjang jadi bahan ledekan.

Mending turu! (source: www.pixabay.com)

Bahasa Jawa Serang membuatku berpikir dulu untuk mengerti artinya, tapi di sisi lain aku pun mengerti bagaimana rasanya jadi penutur asli bahasa daerah. Jadi, seasing-asingnya dialek ini di kupingku, aku tak pernah berpikir untuk “balas dendam” dengan cara menertawakan suamiku saat ia sedang berbicara bahasa Jawa Serang. Selain demi mendukung pelestarian bahasa Jawa Serang, aku tak bakal menertawakan suamiku sendiri pun dengan alasan penting lainnya: ia sedang berbicara bahasa Jawa Serang dengan ayah dan ibunya.

Mau bagaimana lagi? Masa aku disuruh menertawakan mertuaku juga? Jadi menantu saja belum sebulan, masa udah kebanyakan gaya….

 

 

Cilegon, 15 Agustus 2020

Lia, lagi amazed sama bahasa Jawa Serang.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *