Kupikir Aku Bakal Menua Sendirian di Jogja (Tulisan Kolaborasi dengan Haris Firmansyah)

Catatan:

Font normal: Haris Firmansyah

Font dengan quotation: Aprilia Kumala


MalaMinggu adalah kategori di blog adkumala.com yang diisi oleh salah satu Kumala Bersaudara, yaitu Dwi Aprilia Kumala Dewi, adik dari Eka Merdekawati Kumala Sari.

Nama penanya, Aprilia Kumala, sering saya baca di postingan Mojok.co, media online tempat saya menulis selama tiga tahun terakhir. Nggak nyangka sekarang dia jadi istri saya. Yang biasanya kami nulis di Mojok, jadi mojok beneran di kamar untuk nulis postingan ini.

Koreksi: Mas Haris nulis sambil rebahan, Lia masak buat makan malam. Habis makan, baru kami berdua mojok. Haha.

Dengan menyebut nama lengkapnya dan nama ayahnya serta disaksikan keluarga kami, cara saya mencintainya telah resmi diakui negara dan agama. Sah. Legal. Lega rasanya. Akhirnya saya bertemu dengan belahan jiwa. Terlebih orangnya adalah Aprilia Kumala.

Kami tidak hanya nikah dan kawin secara lahir dan batin, tetapi juga ingin mengawinkan tulisan pada postingan kali ini. Jadilah saya mengisi kategori MalaMinggu kali ini.

Saya jadi ingin menceritakan bagaimana rasanya nikah saat pandemi. Sebelum berangkat ke kota asalnya di Cilacap, saya dan sekeluarga harus rapid test dulu. Tentu saja ini momen menegangkan. Bagaimana kalau di antara keluarga saya ada yang reaktif? Terbayang harus karantina dan berhenti kerja untuk sementara waktu. Atau malah saya sendiri yang positif Corona? Bukannya jadi pengantin, malah jadi pasien.

Untunglah, hasil tes seluruh keluarga yang hendak berangkat, non reaktif semua. Alhamdulillah. Walaupun di jalan ternyata tidak ada razia dari Gugus Tugas Corona semacam pemeriksaan dokumen hasil rapid test untuk syarat perjalanan, setidaknya saya sekeluarga datang tidak bawa virus, tapi bawa seserahan.

Salah satu seserahan adalah boxset Harry Potter edisi cover ilustrasi Indonesia. Saya nggak nyangka buku yang saya beli saat harbolnas itu berguna untuk menyenangkan calon pengantin wanita. Padahal niatnya buat pajangan di rumah, eh, malah jadi pajangan di acara lamaran.

Boxset Harry Potter ini ada di highlight IG Story Mas Haris. Dulu sekali, kami pernah intens WA-an, lalu tiba-tiba berhenti. Kayaknya aku yang mulai nggak balas pesan, tapi sebenarnya masih ingin ngobrol. Tapi gengsi. Tahu, kan?!

Jadi aku buka IG Mas Haris dan buka highlight IG-nya. Ada boxset Harry Potter. Sebuah alasan bagus untuk reply dan bilang kagum; setidaknya itu bisa jadi alasan kami mulai saling bicara lagi.

Bisa dibilang kami menikah dengan adat Harry Potter. Cincin nikah kami diukir dengan kutipan dari dua kepala sekolah Hogwarts yang terbaik.

“After all this time?”
“Always.”

Yang merupakan dialog yang cukup membekas dari kisah Harry Potter dan lumayan terhubung dengan kisah cinta kami.

Lalu Lia berinisiatif memberikan suvenir pernikahan berupa dompet menyerupai amplop Hogwarts. Eh salah satu sahabat Lia memberikan kado sebuah sketsa Haris & Lia pakai seragam Hogwarts. Manis sekali.

Sebenarnya aku mengharapkan pernikahan dengan tema Harry Potter lebih nyata. Dengan jubah, tongkat sihir, atau hiasan burung hantu dan tempat foto bertema Platform 9 3/4. Tapi boro-boro jubah, dapat nikah dengan lancar saja alhamdulillah. Pandemi merusak rencana kami. Tidak ada undangan berbentuk amplop Hogwarts; akhirnya dialihkan jadi suvenir khusus keluarga dan kerabat dekat.

Yang tak kalah sedih dari pernikahan menggembirakan ini adalah terhalangnya kedatangan sahabat. Aku pikir, aku akan menikah dan bersalaman dengan Mbak Anggun, Au, Uun, Nene, Lita, atau bahkan Bella dan Selvi (tentu masih banyak lainnya) yang datang jauh-jauh dari Jogja, Jember, atau Jakarta. Sekali lagi, pandemi mengacaukan rencana.

Nyatanya, doa memang selalu jadi hadiah terbaik. Mbak Anggun mengirimkan ilustrasi, Danita membuat hiasan dari clay, orang tua Osi dan Fathona masing-masing datang memberi selamat, bahkan Prima memberikan henna gratis di kedua tanganku!

Kami tidak jadi menikah pakai jubah, tapi keajaibannya tetap terasa.

Harry Potter memang tidak hanya menyenangkan bagi kami berdua, tetapi daya magisnya mampu mempertemukan kami. Kesuksesan JK Rowling sang penulis adalah inspirasi untuk saya mulai belajar merangkai kata dan merapal mantra. Sampai akhirnya saya menyukai aktivitas menulis dan berada di platform yang sama dengan Lia.

Harry Potter dan kegiatan menulis telah mengikat kami berdua. Saya bersyukur telah bertemu dengan buku Harry Potter, membacanya dan menyukainya. Lalu bertemu dengan Lia yang menyukainya juga. Sampai akhirnya kami saling menyukai satu sama lain.

Mas Haris pernah bercerita awal mula ia membaca Harry Potter adalah demi mendapatkan atensi dari seorang kawan dekatnya. Waktu mendengarnya pertama kali, aku sedikit kesal dan ditanya berkali-kali olehnya apakah aku sedang cemburu. Kali ini, setelah membacanya menulis soal mensyukuri keputusannya membaca Harry Potter, aku hampir ingin menjewer telinganya karena teringat cerita tadi, tapi aku sudah berpikir sesuatu.

Bahwa masa lalu kami terjadi jauh sebelum kami bertemu. Apa yang Mas Haris rasa dan lakukan dulu, tak ada hubungannya denganku, pun sebaliknya. Seseorang juga pernah mulai membaca dan menyukai Harry Potter karena mengaku menyukaiku, jadi kupikir sebenarnya hidup kami tak terlalu berbeda: diisi urusan naksir dan ditaksir lawan jenis, sebagaimana remaja pada umumnya.

Tanpa menjadi Haris remaja yang sibuk mempelajari asmara, ia tak bakal jadi secemerlang sekarang.

Kami berterima kasih kepada JK Rowling yang telah menuliskan kisah Harry Potter. Jika beliau tidak menuliskannya, entah bagaimana alurnya saya bisa bertemu dengan Lia. Saya juga berterima kasih kepada Mojok yang telah memuat tulisan saya tentang Harry Potter. Ditambah merekrut redaktur yang berasal dari fanbase Harry Potter. Saya bersyukur bisa menulis dan bertemu dengan Lia yang menyukai menulis juga. Menulis menyembuhkan, katanya. Sekarang, nyatanya menulis juga bisa mempertemukan dan membahagiakan.

Menulis menyembuhkan, tapi ia juga bisa membuatmu berdenyut berdebar. Apa yang ada di hati, tak selalu bisa dituang dengan takaran yang pas. Namun, tiap kali orang ini menulis atau bicara apa pun tentang kami, aku tak keberatan membaca dan mendengarnya baik-baik.

Mas Haris selalu ada di sana, waktu aku menempuh hidup yang aneh sejuta kali lipat. Ia bertahan pula dengan ceritanya sendiri yang tak kalah pelik dan aku diam-diam belajar darinya. Tak ada pikiran kami akan menjadi suami istri sejak awal. Aku bahkan bilang padanya mungkin tak bakal menikah dan akan menua sendiri di Jogja.

Mas Haris tertawa renyah di telepon setiap kali aku melempar lelucon yang paling baru terlintas di telepon. Entah pada pertemuan keberapa setelah telepon kami, aku tahu aku tak ingin melepaskannya lagi.

Padahal, waktu itu, aku sempat kesal padanya karena menggantikanku selama sebulan di Mojok setelah aku resign. Oh, kalau kau bertanya kenapa aku harus kesal padahal aku sendiri yang ingin resign, kau tahu, ini cuma masalah upaya merelakan pekerjaan lama yang benar-benar aku sayang.

Tapi kayaknya, aku sudah tidak kesal lagi sekarang. Mas Haris toh tak berubah dan selalu menyenangkan. Juga menenangkan.

Pesan moralnya, teruslah menulis. Sampai kamu bertemu dengan jodohmu. Lalu bahagia. Selalu.

Kami melakukannya. Mas Haris melakukannya. Aku melakukannya. Kali ini, aku tidak lagi melihat email-nya yang berbunyi “Salam, saya kirim naskah, ya. Terima kasih,” lagi dan lagi di kotak masuk redaksi, tapi aku punya privilege yang mengejutkan: melihatnya tertidur, tapi tangannya tetap memelukku halus.

Seperti malam ini. Dia sudah tidur tapi dia tetap menyayangiku; dia selalu bilang begitu.

Kali ini, aku percaya. Aku menyayanginya. Itu saja cukup.

 

Cilegon, 25 Juli 2020

Haris dan Lia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *