Surat Terbuka dari Koper Eliminasi AFI untuk Virus Korona

Beberapa orang pingsan di studio Indosiar gara-gara menangis waktu Rini AFI tereliminasi, Februari 2004. Saya, yang lagi ditarik sama Adi Nugroho, cuma bisa diam dan memandang mereka dengan nanar. Empat orang akademia di atas panggung langsung memeluk Rini, sebelum akhirnya perempuan yang satu itu menggenggam pegangan saya dan kami melenggang menjauh dari riuh ramai panggung konser.

Sebelum Rini, saya sudah menjadi simbol perpisahan bagi 7 akademia lainnya. Kehadiran saya menjadi momok, apalagi kalau dibawa-bawa sama Adi Nugroho si pembawa acara.

Sialan, memang. Padahal, saya kan cuma bertugas bawa baju, doang, kenapa malah dibenci?!

Jadi, dear virus korona, sebagai sesama pihak yang nggak disukai masyarakat, saya ingin menulis ini khusus buatmu.

“Kalau koper bisa ngomong.” (cr: pixabay)

Pertama-tama, saya mau mengajak kamu bernostalgia, meski saat cerita ini dimulai, kamu mungkin belum lahir.

Sejak akhir tahun 2003, seluruh akademia AFI—Akademi Fantasi Indosiar; acara pencarian bakat yang lebih dulu tayang dibanding Indonesian Idol—dikarantina di sebuah rumah mewah di Jakarta. Ada episode yang menampilkan mereka terharu saat bertemu keluarga, yang menjadi titik pemahaman buat kita semua bahwa karantina tersebut dibayar dengan rindu yang ditangguhkan.

Lucunya, bertahun-tahun kemudian, manusia-manusia ini harus akrab kembali dengan pengalaman karantina.

Penyebabnya? Kamu; Covid-19, Corona Virus Disease 2019, atau virus korona. Sejak pertama kali diberitakan muncul di Wuhan, China, saya kira tak seorang pun berharap bakal berada di hari ini, hari di mana karantina terpaksa dilakukan. Tak seorang pun berharap bakal bepergian dengan masker atau cuci tangan sesering mungkin sampai kulit jadi keriput, persis seperti orang yang mandinya kelamaan. Tak ada jabat tangan atau cium pipi. Tak ada lagi mencet-mencet hape untuk kirim SMS dukungan ke akademia AFI; selain karena takut hapenya terkontaminasi virus, juga karena sekarang AFI kan udah nggak ada. Jangan aneh-aneh, deh.

Masyarakat diimbau tidak mudik atau pulang ke rumah. Artinya, tidak ada pertemuan dengan orang tua dalam waktu dekat. Tidak ada jalan-jalan dengan sahabat di kedai kopi. Di ranah media sosial, tidak ada foto-foto pemandangan baru untuk diunggah di Instagram. Sebagai gantinya, orang-orang berbondong-bondong update Instagram Story pakai template bertema Bingo dan This or That, foto makanan dan minuman eksperimen yang resepnya beredar cepat saking bosannya kita semua, hingga kirim-kiriman hampers di hari raya.

Saya pengin ikutan, tapi saya kan cuma koper—nggak punya jari.

“Bete juga.” (cr: pixabay)

Dear korona yang mulai di-jancok-jancokin sama orang-orang, persis seperti saya yang dulu dihindari para akademia.

Kalau diibaratkan konser AFI, kamu itu seperti akademia yang suaranya biasa-biasa aja, tapi bisa lolos dari eliminasi berkali-kali. Menurut salah satu juri AFI kala itu, Tri Utami alias Mbak Ii’, seorang akademia sangat mungkin memiliki pitch control yang jelek. Tapi kamu, wahai korona, malah punya ditch-control yang terlalu sistematis (ditch: menyingkirkan). Artinya, kamu begitu pandai menyingkirkan kesehatan orang-orang dengan menyebar kelewat mudah sebagai penyakit. Pada beberapa kasus, kamu bahkan tega “mengeliminasi” mereka ke alam yang lain.

Dear korona yang sempat-sempatnya di-cosplay sama Cinta Laura (saya akui saya kalah dalam hal ini).

Tahu kenapa kamu menyebalkan? Kamu datang terlalu mendadak. Manusia jadi ketakutan mendengar batuk, mengira cairan yang beterbangan di udara berisi virus korona. Tidak ada alarm dan firasat apa pun—berbanding terbalik dengan Dicky AFI yang punya feeling buruk saat menyanyikan lagu Firasat di babak 6 besar dan berujung pada eliminasi dirinya.

Dicky pulang dan suasana jadi sendu. Lihat, kepergian yang dimulai dengan sebuah firasat saja sudah menyedihkan, apalagi yang nggak pakai permisi kayak kamu.

Tahu alasan lain kenapa kamu menyebalkan? Gara-gara kamu, ada 132.279 orang dirumahkan tanpa upah, sementara 30.137 orang lainnya di-PHK. Bandingkan angka ini dengan “kelakuan” saya yang merumahkan hanya 1 akademia setiap minggunya. Kalau saya saja sudah dicap mengerikan dan bikin orang sedih, apalagi kamu?!

“Saya adalah tanda orang lain harus pulang.” (cr: pixabay)

Dear korona, dengar ini baik-baik.

Saya memang “jahat” dan membuat akademia pulang ke rumahnya lebih cepat dalam pertarungan AFI yang melegenda. Namun begitu, ada satu hal yang saya pahami dari pekerjaan saya: Kedua belas akademia ini, seluruhnya, ingin jadi pemenang.

Mereka menangis setiap Adi Nugroho menyebut nama mereka. Mereka sedih kalau harus bertemu dengan saya dan tereliminasi. Ini, akuilah, sama seperti banyak orang yang kecewa dengan hadirnya kamu.

Jadi, dear korona, sudahlah. Berhentilah dari pekerjaanmu, seperti yang saya lakukan selama beberapa tahun belakangan ini: fokus menjadi koper traveling biasa.

Tahu, nggak, kor, korona? Rasanya jauh lebih menyenangkan berada dalam kehidupan bahagia yang normal dan sedikit bising, daripada memberi bayang-bayang ketakutan dan ketidakpastian. Oh, dan lagi pula, saya pengin lihat 12 akademia AFI kesayangan saya bernyanyi bersama-sama di atas panggung reuni, bukan hanya bernyanyi dari rumah masing-masing.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *