55 Tebak-tebakan Menyebalkan dan Rekapitulasi Perjalanannya

Semuanya dimulai dari halaman pertama novel Lupus di rak buku kakak.

Penulisnya Hilman Hariwijaya—kadang-kadang berkolaborasi dengan Boim Lebon. Novel Lupus hadir dengan background berbeda-beda; ada kisah waktu saat dia berada di bangku SD hingga SMA. Pembaca pun diajak mengenal keluarganya, mulai dari saat Papi-nya masih hidup hingga ketika Mami-nya menjadi single parent dan punya usaha katering.

Lupus tak melulu sempurna dan baik hati sepanjang cerita. Ada masa dia meninggalkan gebetannya, menduakan kekasihnya, menjahili adik perempuannya, atau kelewat merengek pada orang tuanya. Tapi yang jelas, seluruh tokoh dalam cerita sepertinya sepakat pada satu hal: Lupus adalah apa yang lekat pada tebak-tebakan.

(source: https://www.idntimes.com/hype/throwback/pinka-wima-1/6-novel-karya-hilman-ini-dulu-jadi-bacaan-wajib-generasi-90an-c1c2/3)

Kehidupan tidak berpihak dengan keberuntungan setiap waktu. Seorang teman berteriak histeris dan menangis saat badannya dikuasai sesuatu yang tak terlihat. Setelah air matanya dihapus, dia datang dan—ini lucu—mengaku kangen diberi tebak-tebakan nggak mutu milik saya.

Rupanya, kesurupan memang tak lebih baik daripada “tersiksa” mendengar tebakan ngasal.

Bertahun kemudian, seseorang mengirimi saya surat panjang dan salah satu kalimatnya berbunyi: “Maaf. Aku mohon. Aku janji akan tertawa setiap kali kamu kasih tebakan.”  Haha. Saya cuma menggeleng dan menghapus pesannya dari inbox karena merasa tak ada lagi yang bisa diperjuangkan dari hubungan asmara yang dikhianati duluan. Pun, saya tidak berharap orang-orang akan tertawa mendengar pertanyaan random saya—kenapa harus repot-repot menjadikannya jaminan?

Bahkan jika seseorang menyebut bahwa kamu serupa tebak-tebakan—karena menyebalkan tapi tetap diharapkan—kamu tak selalu harus diam di sana.

(source: www.pixabay.com)

Saya masuk ke Mojok per awal tahun 2018 dan menemukan banyak perasaan yang sebelumnya tak pernah saya duga. Delapan bulan pertama di Mojok sudah saya tuliskan di sini, menjadi titik awal kenapa tempat itu punya nilai sendiri buat saya.

Mojok punya rubrik #TebakanMojok di Instagram—yang bahkan sudah ada sejak sebelum saya resmi bergabung. Di pikiran saya waktu itu, kenapa ada orang yang tebakannya bikin kesal?! Sebelum saya menemukan jawabannya, saya jadi sadar duluan: mungkin itu yang teman-teman saya rasakan selama ini.

Saya ingat betul, pertama kali masuk Mojok, hal yang saya lakukan pada akun Twitter saya adalah: menumpuk twit lama dengan tebakan, selain tentu saja berusaha menghapus cuitan galau. Maklum, terakhir update kan waktu dulu saya putus cinta. Terus, kenapa tebak-tebakan yang saya pilih sebagai solusi? Saya juga nggak tahu. Dasar tempe.

Tapi malam itu, tebakan yang dulu saya tulis sembarangan di Twitter ternyata malah divisualisasikan dengan apik oleh tim medsos Mojok.

(source: media sosial Mojok)

Salah satu rubrik di Mojok yang saya ampu selagi masih aktif menjadi redaktur adalah List. Tulisan pertama saya di List pun berbau tebak-tebakan; berjudul 5 Alasan Tebak-tebakan Tidak Boleh Dianggap So Yesterday. Kamu bisa membacanya di sini.

Saya resign dari Mojok di akhir Oktober 2019. Lagi, saya menulis soal tebak-tebakan di rubrik List sebelum habis masa kerja. Kali ini, artikel yang berjudul 15 Tebak-tebakan yang Katanya Paling Bikin Emosi ini berisi beberapa tebakan yang saya tulis asal-asalan pertama kali di Twitter, yaitu:

1. Buah, buah apa yang pikun?
Jawabannya: Buah melon, soalnya lupa sama ibunya. Nama lengkapnya: Melon Kondang!

2. Sayur, sayur apa yang bersinar?
Jawabannya: Terong. Kenapa? Soalnya, habis gelap, terbitlah terong.

3. Permen apa yang nggak pernah dimakan juri KDI?
Jawabannya: Permen lolipop, soalnya namanya bukan lolidangdut.

4. Nasi rames kalau lauknya cuma satu jenis, namanya jadi apa?
Jawabannya: Nasi sepis.

5. Guru, guru apa yang nggak gemuk?
Jawabannya: Gurusan. Hehe.

6. Kalau Tara Basro lagi ngelucu tapi nggak lucu, namanya jadi siapa?
Jawabannya: Tara Basreng, soalnya garing.

7. Ikan apa yang cowok?
Jawabannya: Ikan lele. Kalau cewek, namanya jadi ikan nduknduk (catatan: dalam bahasa Jawa, kata “tole” atau “le” digunakan untuk memanggil anak laki-laki, sedangkan “nduk” untuk memanggil anak perempuan).

8. Ayam, ayam apa yang nggak bisa dipegang?
Jawabannya: Ayam hilang. Lah wong wujudnya aja masih dicari, gimana mau dipegang?!

9. Alat musik apa yang ditiup?
Jawabannya: Alat musik yang kotor dan berdebu.

10. Sepatu, sepatu apa yang nggak bisa dipakai?
Jawabannya: Sepatu lari. Mau dipakai, eh malah kabur terus.

11. Binatang apa yang jadi nasabah bank?
Jawabannya: Kodok, soalnya kodok ngorek. Ngoreknya beragam; bisa ngorek BNI, BCA, Mandiri, dan lain-lain (kalau masih nggak mudeng, “ngorek” adalah plesetan “norek” alias “nomor rekening”).

12. Ayam, ayam apa yang bikin bingung Pak Pos?
Jawabannya: Ayam… at palsu. Alamat palsu. Hehe.

13. Hantu, hantu apa yang pendek?
Jawabannya: Hantu pocong. Pocong rambut.

14. Makanan ringan apa yang so sweet?
Jawabannya: Chiki. Chiki… ring itii limi pilih tihin ligi ki misih ikin titip mincintiimiiii~ (ini lirik lagu “50 Tahun Lagi”-nya Warna)

15. Bayangkan kamu lagi ada di perahu kecil yang bocor, hampir tenggelam, dan dikelilingi lima ekor hiu. Gimana caramu menyelamatkan diri?
Jawabannya: Ya tinggal berhenti membayangkan, lah. Susah-susah amat.

Saya tidak akan pernah tahu apakah Twitter atau diri saya sendiri akan bertahan selamanya. Jadi, sambil mengenang seluruh tawa dan kesal dari teman-teman yang merelakan waktunya untuk mendengar pertanyaan saya, inilah rekapitulasi tebak-tebakan selanjutnya yang tadinya mau dibikin thread di Twitter tapi nggak jadi karena kelupaan terus:

16. Film apa yang patuh aturan PUEBI?
Jawabannya: Film Dilan, soalnya kata “di”-nya nggak dipisah karena nggak menunjukkan tempat (baca tulisan saya yang lain soal aturan ini dalam kaidah bahasa Indonesia, di sini).

17. Ikan cupang kalau tambah gede, namanya jadi apa?
Jawabannya: Ikan glass-ang. Glass (gelas), kan, lebih besar daripada cup (cangkir). Hehe.

18. Makanan, makanan apa yang pakai daging kambing tapi harganya cuma lima ribuan?
Jawabannya: Nasi goceng kambing~

19. Orang apa yang nggak makan bakso di Solaria?
Jawabannya: Orang yang pesen nasi goreng.

20. Daerah, daerah apa di Jakarta yang belum jadi-jadi sampai sekarang?
Jawabannya: Glodok, soalnya masih di-glodok, belum mateng-mateng.

21. Stasiun, stasiun apa yang terang?
Jawabannya: Stasiun Tebet, karena the sun rises in the east, alias matahari tebet di timur.

22. Lagu, lagu apa yang enak?
Jawabannya: Lagunya Titi DJ. Bahasa kaldu.

23. Sambal apa yang gampang kaget?
Jawabannya: Sambal matah. Matahnya bervariasi, bisa “Eh monyong, monyong!” atau “Eh ayam, ayam!”

24. Alat musik apa yang umumnya dibeli pertama kali?
Jawabannya: Suling, soalnya kalau dibelinya paling terakhir namanya jadi bungsu.

25. Masker, masker apa yang bukannya dipakai, tapi malah ditonton doang?
Jawabannya: Masker chef.

26. Kue, kue apa yang munculnya malem-malem?
Jawabannya: Kue nastar. Kalau siang, sih, jadi kue na-sun, bukan na-star.

27. Makanan, makanan apa yang anti keseleo?
Jawabannya: Tempe bacem. Bacem otot geliga.

28. Apa lawan kata “karantina”?
Jawabannya: Karanjali (hint: film Kuch Kuch Hota Hai).

29. Kucing, kucing apa yang nggak berisik?
Jawabannya: Kucing siam. Siam siam bae, ngopi apa ngopi~

30. Kucing, kucing apa yang nggak bakal ikut kita kalau pergi?
Jawabannya: Kucing… galan. Kucinggalan.

31. Toko, toko apa yang jualan bacot?
Jawabannya: Toko… song nyaring bunyinya.

32. Bakso, bakso apa yang isi semangkoknya nggak sampai lima biji?
Jawabannya: Bakso babat. Siji, loro, telu, babat!

33. Binatang apa yang bisa disayur?
Jawabannya: Kecoa… mbah. Kecoambah.

34. Mobil, mobil apa yang cowok?
Jawabannya: Kijang, soalnya kalau cewek namanya Nyai-jang.

35. Nasi goreng tahun 1927 namanya apa?
Jawabannya: Nasi went-reng, soalnya past tense.

36. Tempat wisata/nongkrong di Jogja yang cowok banget?
Jawabannya: Bukit bintang. Kalau cewek banget, harusnya dikasih nama bukit binti tang.

37. Profesi apa yang sangat-Reza-Rahadian?
Jawabannya: Lawyer, lawyer lebar~

38. Lem, lem apa yang suka bergunjing?
Jawabannya: Lem aibon, karena… aib on.

39. Pohon, kalau makin besar, namanya jadi apa?
Jawabannya: Jadi Lalahon, Dipsyhon, Tinkywinkyhon.

40. Binatang, binatang apa yang suka mencuci?
Jawabannya: Kancil, soalnya kancil mencuci timun (eh, mencuri, ya? Hehehe).

41. Seni, seni apa yang nggak suka kisruh?
Jawabannya: Seni sendratari. Sendratari damai-yana (catatan: plesetan dari “Ramayana” hehe).

42. Makanan, makanan apa yang capek?
Jawabannya: Pegel lele.

43. Kota, kota apa yang setia?
Jawabannya: Semarang. Ada lagunya: “Semarang atau lima puluh tahun lagi, ku masih akan tetap mencintaimuuuu~”

44. Hewan apa yang mutungan/pundungan?
Jawabannya: Kambing, soalnya bunyinya ngambek (catatan: niatnya sih mau plesetin “ngembek”).

45. Soto, soto apa yang tampilannya terlihat berbeda dari soto pada umumnya?
Jawabannya: Sotoshop.

46. Rumah, rumah apa yang sopan?
Jawabannya: Rumah tamah.

47. Pupuk jenis apakah yang bisa berbagi kabar dan berita?
Jawabannya: Pupuk kompos. Kompos dot com. Haha.

48. Pantai apa yang bohoooong terus?
Jawabannya: Pantai Kuta. Kuta-kuta dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Ih, bohong, kan?

49. Drakor apa yang syuting di London dan naskahnya ditulis orang Inggris?
Jawabannya: Drakor Malfoy. Hahaha, kenal nggak?

50. Apa persamaan batu bata dan tiang bendera?
Jawabannya: Sama-sama nggak nengok kalau dipanggil.

51. Kota apa yang selalu dicari-cari?
Jawabannya: Tasikmanaya, Jawa Barat.

52. Motor, motor apa yang suaranya bagus dan punya album?
Jawabannya: Motor Vespa. Titiek Vespa.

53. Puncak, puncak apa yang letaknya di bawah?
Jawabannya: Puncak lutut kaki, lutut kaki~

54. Filosofi apa yang bentuknya tas, bukan kata-kata atau pemikiran?
Jawabannya: Filosofi Martin (maksudnya Sophie Martin. Hehe).

55. Serial yang pemainnya amis semua, apa judulnya?
Jawabannya: Meteor Sarden.

Selesai! (source: www.pixabay.com)

Saya bukan orang yang pandai memulai pembicaraan. Dulu, saya merasa Lupus keren karena bisa mencairkan suasana dengan tebakan aneh dan lucu, yang kalau dibaca ulang sekarang memang terasa absurd. Sebagai penggemar garis keras, saya menghafalkan beberapa tebakan Lupus sejak SD, membagikannya di jam istirahat, dengan harapan bisa menjadi seperti Lupus: menghibur teman-teman di sekolah.

Teman-teman saya tertawa, dan matahari rasanya bersinar lebih cerah 12 kali. Saya jadi ketagihan membeli buku tebak-tebakan—memperlakukan permainan kata dan logika ini sepadan dengan materi IPA yang akan diujikan di hari Rabu.

Seorang teman berpesan seharusnya saya kelak bisa ikut Porseni cabang olahraga tebak-tebakan, yang saya jawab hanya dengan ketawa. Tebak-tebakan bukan olahraga, tentu saja, tapi kalimatnya memicu hati saya jadi jauh lebih baik, setidaknya, sebelum kami berpisah di hari kelulusan.

 

Dan, ya, tidak ada yang spesial dari tebak-tebakan secara umum. Semua orang bisa membuatnya sambil lalu, seperti Lupus yang meraciknya selagi mengunyah permen karet. Tapi, tulisan ini dibuat dengan banyak kenangan, mulai dari kesan karakter Lupus, seni bertahan hidup di kota rantau, teman-teman SD, dan segala hal tentang bahagia di tengah gelap yang kepala saya hadirkan sendiri.

 

Terima kasih, penemu tebak-tebakan. Terima kasih, Hilman Hariwijaya.

 

Cilacap, 16 April 2020

Aprilia Kumala

12 comments

  1. Wekekekeke. Tebakan garing ala-ala dirimu itu mba, yang sukses bikin anak dan istriku sebel.

    Kenapa sajadah bentuknya persegi panjang?
    Karena kalau bentuknya segitiga, namanya sawajik

    Di Jawa, jadah disajikan berbentuk kotak/persegi panjang, sedangkan wajik disajikan dalam potongan segitiga.

  2. Hahaha ya emang nyebelin sih. Pegel Lele itu lho. :))

    Kayaknya bisa direkrut sama permen bigbabol buat bikinin list tebak2an selanjutnya deh. Hahaha. Anyway, baru pertama kali main ke sini deh. Salam kenal ya! \(w)/

    • Konon, salah satu hal menyenangkan dari main tebakan adalah bisa bikin kesel in a funny (kayaknya) way. Haha. Terima kasih sudah mampir. Salam kenal! 😀

  3. Ternyata sudah resign pantes saya cari-cari di Mojok tulisan terbarunya ngga ada. Saya menikmati tulisan-tulisan mbak April

    • Iya, sudah resign akhir Oktober lalu. Terima kasih ya sudah baca tulisan-tulisan saya! Saya sempat nulis di Terminal Mojok dan sekarang lagi suka menulis lepas. Sesekali mampir, ya, kalau ada tulisan baru (kadang saya update di medsos hehe). Have a nice day!

  4. Dishare sama Ekaq, temanku. Terus mampir. Kubaca sambil nungguin pengawas zoom hahahahaha. Aku suka mba April sejak di mojok dan satu2nya kru yg folbek aku dan tyda sombhoong di twitter:’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *