Kalau Kita Bertahan dari Gelombang di Bulan April

Halo, Matahari.

Pagi kami datang seperti biasa, dengan cahayamu yang menusuk-nusuk di ufuk timur. Sayang, kami tak bisa bermandi terang sebebas-bebasnya. Dunia luar sedang tak bersahabat. Ada yang mengancam dan tak terlihat. Tak ada yang tahu rupa sesungguhnya, selain bagaimana ia menyerang ketahanan tubuh dan membuat kami divonis sakit yang mudah menular.

Tapi, Matahari…

Bahkan rumah yang aman pun bisa membosankan. Bukankah segelas kopi dingin dan pertunjukan akustik live di kedai yang ramai bisa terasa seksi? Atau, suara ombak berturutan di pinggir pantai dan bapak-bapak nelayan yang menawarkan jasa perahu menyeberangi pulau?

Buatku, ini mungkin hari ke-26, tapi bisa pula berbeda dengan yang lainnya. Kami menahan diri dan mengintip terangmu dari sela-sela yang jatuh ke atap. Korona, begitu namanya, telah membuat kami terpaksa mencoret sederet daftar rencana yang dibuat sejak bulan lalu.

Matahari,

Tolong ceritakan sedikit, apakah jalanan yang dulu itu masih saja kamu hujani dengan terik? Apakah ibu-ibu penjual bubur di depan kantor masih berada di sana, memastikan pelanggannya tak kelaparan? Apakah pohon besar dekat jembatan masih menjatuhkan daun-daunnya sembarangan?

(source: www.pixabay.com)

Setiap hari, rasanya sama.

Layar laptop dan ponsel di balik dinding, makanan hangat yang dipanaskan di atas kompor. Tidak ada Kota Kasablanka yang ramai, atau macet sepulang kerja lewat Pancoran. Tidak ada pesta ulang tahun, apalagi perjamuan dua keluarga dari dua insan yang akan bertunangan. Rencana nonton konser sebaiknya dikubur—bahkan musisi ogah mempertaruhkan nyawa pada ketidakpastian begini.

Karena, kita semua, toh, enggan menebak-nebak takdir.

 

Bahwa ini terjadi hingga bulan keempat yang paling membahagiakanmu, bersabarlah. April seharusnya tak semenyedihkan ini.

 

10 April 2020,

April-lia.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *