Sebentar Lagi yang Sialan Sudah Punah

“Kamu terakhir kali salat kapan?”

“Seminggu lalu. Kan lagi halangan.”

Yang bertanya diam saja. Malam itu aneh sekali. Sudah hampir pukul 1 pagi, tapi kamu malah datang ke tempat ini dan menangis gara-gara sesuatu terjadi mendadak.

Berbulan-bulan setelah malam itu, keadaan tidak jadi lebih baik. Masalahnya kian rumit dan panjang, tapi tidak ada yang tahu kecuali kamu dan—sebut saja “si pelaku”—karena segalanya terjadi dengan rapi, atau kamu terlalu bodoh dan percaya pada apa yang orang-orang rumuskan sebagai kata “cinta” di KBBI.

Beberapa hari lalu, kamu berjalan-jalan sendiri tanpa siapa-siapa. Waktu mencari ruangan dengan judul “musala”, kamu teringat pertanyaan di atas, sekaligus semuanya—apa yang terjadi malam itu dan 10 bulan setelahnya berturut-turut.

Kamu sudah mengadu banyak sekali sampai berbusa, pada banyak teman yang mau mendengar. Rasanya ingin berbuih dan meminta tolong terus-terusan. Tapi, di satu titik, kamu paham sesuatu: ini seperti kamu yang berteriak minta validasi bahwa yang terjadi adalah A, bukan B, meskipun semuanya terlihat sangat B. Selama nyaris setahun ini rasanya lelah sekali dan ada banyak kesalahan yang sudah kamu lakukan.

Kata orang, orang yang paling kamu sayang adalah orang yang punya kesempatan besar untuk membunuhmu. Kamu yakin itu bukan omong kosong karena, lucunya, seseorang pernah secara tak langsung hampir membuatmu begitu putus asa pada hidup. Orang yang sama pernah membuatmu berusaha menahan kantuk sepanjang malam hanya untuk diam-diam bertemu. Orang yang sama pernah membuatmu masak seharian karena ingin mengiriminya makan siang, tapi batal karena mendadak pergi tak memberi pamit.

Kamu bisa memberikan 100% perhatianmu pada siapa pun, tapi tak ada yang menjamin kamu bahkan akan dapat separuhnya. Kamu sudah kenyang dijejali kalimat-kalimat manis yang selama ini kamu percaya dan kamu simpan sendiri sebagai pembenaran atas segala kebodohan yang kamu lakukan, tapi kamu juga kenyang pada pahit yang datang setelahnya.

Kemarin, selepas salat Asar yang tidak lagi dihiasi air mata seperti tiga bulan terakhir, matamu berat dan rasanya mengantuk.

“Sepertinya aku tidur terlalu banyak,” keluhmu.

“Nggak apa-apa. Kamu sudah terlalu banyak menghindari tidur di bulan-bulan gelap yang dulu karena takut bakalan menangis setiap bangun pagi, kan?”

Seseorang menjawab—seseorang yang jelas-jelas lain.

Kamu memutar pikiranmu. Rasanya hangat dan menyenangkan kalau dihargai.

Tapi, yah, kamu benar-benar tidak bercanda waktu diam-diam berharap seharusnya kalian bertemu jauh lebih dulu, setidaknya sebelum badai setahunan ini datang dan membuatmu benar-benar tidak kenal dirimu sendiri dan lebih suka bersikap skeptis sambil mengumpat “Sialan” pada hampir semua hal di dunia.

Sialan.

 

Jakarta, 23 Desember 2019

Lia, sudah 87%.

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *