Surat Permintaan Maaf buat Firdaus

Kampanye anti bullying digemakan di mana-mana. Orang-orang bersuara soal pengalamannya dirundung semasa sekolah, tentang bagaimana hinaan yang mereka dapatkan menjadikan mereka sebagai manusia yang jauh lebih kuat hari ini.

Kemarin, di lini masa Facebook, seorang teman menuliskan pengalamannya di-bully waktu SD. Katanya, ia jadi bahan bulan-bulanan karena kulitnya yang hitam dan tidak tampak cantik.

Saya terdiam cukup lama membacanya. Saya ingat betul: seorang teman saya—juga di waktu SD—pernah mengalami hal itu.

Namanya Firdaus—murid laki-laki yang baru saja pindah ke sekolah kami di kelas 4 SD. Wajahnya terlihat sedikit sayu saat masuk ke kelas kami; mungkin takut dan khawatir karena pengalaman pertama di tempat baru memang selalu sedikit mengerikan, apalagi untuk anak-anak berusia 10 tahun seperti kami.

Firdaus tidak datang sendirian. Ada dua perempuan yang juga datang sebagai murid baru. Karena saya juga perempuan, saya cenderung lebih sering bermain dengan dua murid perempuan baru ini. Rambut mereka bagus dan kami bicara soal jepitan rambut berbentuk kupu-kupu. Kadang-kadang, kami juga bicara soal episode terbaru Maruko setiap hari Minggu, atau episode telenovela Amigos X Siempre yang diputar setiap pulang sekolah.

Firdaus tidak saya amati dengan detail dari hari pertama. Hingga di suatu hari, saya asyik berbincang dengan seorang kawan laki-laki, sebut saja namanya Gio. Bersama dua teman lainnya, Adi dan Nando, Gio mendadak mengalihkan perhatiannya dari saya, padahal kami sedang bertukar pikiran soal cerita-cerita fantasi seru yang bakalan keren kalau dibuat dalam versi komik.

Ada Firdaus di sana. Ketiga teman laki-laki saya tertawa keras sekali, memanggil Firdaus, lalu membentaknya saat Firdaus dirasa berjalan terlalu pelan.

“Heh, jangan dibentak,” kata saya refleks, tapi tidak ada yang mendengar. Firdaus datang. Agak menunduk.

Adi menjatuhkan tas miliknya. Isinya berserakan. Kemudian, dia berkata, “Rapiin, nih. Berantakan.”

Lalu, “Cepetan!” saat Firdaus tampak diam dan mematung.

Ketiga teman laki-laki saya tertawa. Selagi Firdaus merapikan isi tas milik Adi, Nando dan Gio melakukan hal yang sama: memporak-porandakan tas mereka sendiri agar bisa menyuruh-nyuruh Firdaus merapikan seluruhnya, sambil menyebut julukan-julukan aneh untuknya.

Semuanya tertawa. Adegan ini tampak lucu bagi mereka. Gio sendiri adalah teman dekat saya di kelas karena kami sering duduk bersebelahan, tapi harus saya akui pula Gio merupakan “preman” di kelas kami. Dia tak pernah macam-macam pada saya, bahkan berani memarahi anak-anak lain yang berniat mengganggu saya. Tapi hari itu, hati saya sakit sekali melihat Gio.

Yang membuat saya lebih sakit saat mengingat kejadian itu adalah: saya bahkan tidak melakukan apa-apa untuk menghentikannya.

Firdaus menatap saya beberapa kali—tentu dengan sedikit menunduk. Saya kadang membuang muka, merasa tak kuat karena iba yang menyeruak tiba-tiba.

“Jangan nakal, Gio. Ngawur kamu,” saya ingat saya bilang begini. Gio cuma tertawa.

Saya suka melihat Gio tertawa—tawanya adalah hal yang paling mudah menular di dunia. Entah bagaimana, saya ikut tertawa. Sebagian kecil tubuh saya bahkan dengan gilanya berkata, “Tidak apa-apa, ini cuma bercanda. Firdaus mungkin melakukannya dengan senang. Gio mungkin akan meminta maaf dan ini hanya ‘sambutan’ kecil untuk masuk ke geng kami.”

Tapi tidak ada jabat tangan. Gio tidak berhenti tertawa dan saya merasa ada yang aneh. Firdaus merapikan tas berkali-kali. Firdaus ditertawai berkali-kali setelah Gio melempar ejekan. Saya—menyebalkannya—hanya bisa diam dan melihat saja.

Beberapa hari kemudian. Firdaus kembali pindah sekolah. Gio menanggapi berita ini dengan terkekeh. Kami tidak bicara sepanjang hari itu dan keesokannya, sebagian karena saya merasa tiba-tiba sedih mendadak.

Waktu berjalan cepat sekali. Kami semua lulus SD dan saya tidak tahu ke SMP mana Gio mendaftar. Tidak ada kontak sama sekali karena kami belum masuk ke era media sosial. Saya menjalani hidup yang baru sebagai anak SMP yang “beru gede”.

Ada satu momen saya bergabung ke sebuah acara jalan sehat di tengah kota. Pesertanya banyak karena terbuka untuk umum. Saya berjalan dengan semangat karena ditemani teman-teman yang juga ikut mendaftar.

Di belokan ketiga, sesuatu terjadi. Seorang laki-laki—saya menebak kami sebaya—datang ke arah saya. Wajahnya terasa familiar. Terlalu familiar, sampai saya menyadari bahwa ia adalah…

…Firdaus.

Firdaus melihat saya. Saya melihat Firdaus. Kami berhenti dan berhadapan dalam jarak yang masih cukup jauh.

Setelah beberapa detik yang rasanya panjang, saya mulai ingin bergerak. Saya ingin memanggilnya dan menjabat tangannya, bertanya di SMP mana sekarang ia belajar, dan apakah kota ini sudah ia nikmati dengan maksimal.

Tapi, belum sempat satu hal pun saya lakukan, ekspresi wajah Firdaus berubah. Saya bersumpah tidak akan melupakannya: ekspresi ketakutan dan panik, lantas ia berbalik badan dan cepat-cepat berjalan maju meninggalkan saya.

Rasanya sakit sekali. Saya ingin merutuki diri sendiri, bahkan setelah kejadian itu sudah berlalu selama hampir 15 tahun.

Firdaus, maafkan saya.

Iya, kalau kamu membaca ini, saya sungguh-sungguh minta maaf.

 

Jakarta, 6 Desember 2019

Lia

(masih temannya Gio dan masih belum berkomunikasi lagi dengannya, tapi saya yakin Gio sudah jadi orang yang jauh lebih baik sekarang)

2 comments

Leave a Reply to Haris Firmansyah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *