“Saudade” Adalah Kata Tersulit Nomor 7 di Dunia untuk Diterjemahkan

Sebuah surat terakhir untuk perjalanan yang paling sia-sia.


Satu bungkus rokok yang kubeli berisi 12 batang, sementara setengahnya sudah habis dalam sekejap. Di luar masih hujan deras dan aku memutuskan bertahan di kedai kopi sampai waktu terakhir pesan dibatasi.

Aku bukan perokok aktif, setidaknya sampai satu bulan sebelum malam itu. Tahu-tahu aku berhenti di minimarket dan membeli sebungkus, lengkap dengan korek api, seakan-akan itu sudah jadi rutinitas. Berturut-turut dalam hitungan hari, hidup menjelma jadi tantangan paling buruk di Fear Factor, atau wahana paling mengerikan di taman bermain paling ekstrem di dunia.

Seorang teman, yang mendengarku diam terlalu keras, mengirimiku link: album Mantra Mantra milik Kunto Aji—penyanyi yang sebelumnya kudengar gara-gara lagu Akhir Bulan.

Aku pikir aku cuma akan berbasa-basi dan tak bakal mendengarnya, tapi lirik “yang kau takutkan tak kan terjadi” di lagu Rehat membuatku terdiam begitu lama, sampai-sampai aku menghabiskan seluruh lagu di tengah-tengah jam kerja.

Ada 9 lagu dalam satu album, dan seluruhnya mencekatku begitu dalam—terlalu dalam sampai ada yang tak bisa aku dengar sampai hari ini. Tulisan ini mungkin tak bakal membahas semua lagu, tapi aku akan menuliskannya dengan perasaan yang paling jujur dan telanjang.

Sulung

Pertama kali menonton film tanpa ditemani adalah saat Dua Garis Biru diputar. Alasannya sederhana: menghibur diri sendiri dan melihat Zara. Sebelum masuk studio, perutku bercanda sebentar, membuatku ingin pulang, tapi akhirnya aku duduk juga di kursi pinggir, melihat layar dalam satu deretan sekian belas pasangan sore itu.

Ada banyak adegan yang menarik, dan tentu saja “adegan UKS” adalah yang terbaik. Tapi, selagi aku membetulkan posisi duduk, tokoh Bima berjalan di atas jembatan dan mendadak lagu yang terakhir kali ingin aku dengar hari itu berkumandang keras-keras.

“Cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu.”

Lagu Kunto Aji, Sulung, diputar tanpa ampun.

Sore itu aku baru tahu: sebuah lagu yang muncul mendadak bisa menusuk tajam-tajam kalau dimainkan penuh kejutan. Sialan.

Rehat

Konon, ada 6 macam frekuensi yang punya dampak dalam perasaan manusia: 1) frekuensi 396 Hz untuk mengeluarkan pikiran negatif; 2) frekuensi 417 Hz untuk memperbaiki situasi dan mendorong perubahan; 3) frekuensi 528 Hz untuk bertransformasi (keajaiban); 4) frekuensi 639 Hz untuk membangun hubungan; 5) frekuensi 741 Hz untuk menimbulkan solusi; dan 6) frekuensi 852 Hz untuk kembali memahami jiwa. Lagu Rehat—lagu pertama yang temanku “paksa”aku dengar—lahir dengan frekuensi 396 Hz.

Dan kamu tahu ke arah mana lagu ini berputar.

Rehat menenangkan di masa-masa sulit. Pekerjaan yang menekan terlalu banyak bagian otak, sampai hubungan yang tak pernah jelas dan penuh tanda tanya yang egois. Rehat bilang “semua ini bukan salahmu” waktu hampir seluruh sel tubuh meneriakkan hal sebaliknya. Rehat menyisakan separuh durasinya untuk musik yang membiarkan kita semua duduk dalam hamparan pikiran dan kontemplasi:

…bukankah hidup terlalu melelahkan dan kadang-kadang kita butuh istirahat?

Pilu Membiru

Aku pernah memutuskan tak akan suka lagu ini.

Ada terlalu banyak hal yang tidak bisa kuterima: kepergian yang mendadak, penjelasan yang hilang, simpul yang belum selesai, atau luka yang masih basah. Tapi yang lebih menyakitkan, seluruhnya masih terlihat di depan mata: seperti seseorang yang kamu pikir tak bakal bisa kamu lepas dari kompartemen paling dalam di kepala.

Kami pernah berada di dalam ruangan yang sama. Hampir setiap hari. Ada gerakan tangannya yang meninju udara kalau terlalu lelah. Ada cara berjalannya setiap kali datang dengan sebungkus makan pagi. Ada aroma parfum yang pernah kami bahas sampai tidur kemalaman.

Ada sesuatu yang ditahan-tahan dan kami harus berpura-pura ingin bersin kalau mata terasa panas, padahal sepatah kata “Halo” saja sudah tak ada.

Ini bahkan terlalu biru.

Terlalu biru.

Saudade

“Saudade” adalah kata tersulit nomor 7 di dunia untuk diterjemahkan, setidaknya menurut BBC Brasil. Dari bahasa Portugis, kata ini tak punya terjemahan langsung dalam bahasa Inggris. Wikipedia menyebutkan bahwa Saudade menggambarkan perasaan nostalgia mendalam atau rasa kehilangan berkepanjangan seseorang atas orang lain yang dicintainya.

Dalam bahasa Indonesia, kamu bisa menyebutnya mirip dengan kata “kangen”—perasaan di antara rindu dan sedih, dan kurasa kamu harus setuju karena liriknya begitu “kejam” begini:

“Biarlah aku dikutuk dan engkau yang dirayakan. Perjalanan, takdir, dan kenangan berselimut doa; hangatnya akan terjaga.

Dan, tentu saja, bagian yang paling membuatmu menggeleng tapi juga mengangguk:

“Selalu ada menemanimu sampai kita dihapus waktu.”

Sampai dihapus waktu, walaupun kurasa kita semua tak bakal tahu apakah masih ada tenaga, setidaknya kita bisa sepakat bahwa saudade yang kita miliki untuk orang yang paling berharga itu sudah kita perjuangkan kencang-kencang.

Kupikir, bukankah itu hal yang paling baik yang bisa kamu lakukan pada orang yang kamu cintai: memperjuangkannya?

Jakarta Jakarta

Bahkan sampai hari ini, masih banyak pesan masuk di hapeku, bertanya-tanya tentang satu hal: kenapa pindah dari Jogja, kota yang selama ini aku banggakan dan jadi tempatku pulang?

Jakarta bukan pilihan asal-asalan. Oke baiklah—sedikit asal-asalan. Tak ada gunanya menutup-nutupi bau busuk dan jungkir balik yang aneh selama setahun belakangan. Usiaku kian meninggi, tapi Jogja malah serupa duri.

Tidak ada yang salah. Kalaupun ada, akulah pelakunya. Jakarta, sejak hari pertama kedatanganku, sudah membuatku ingin pulang ke Jogja, tapi tentu saja aku tidak bakal kalah kali ini.

“Dalam hati aku selalu ingin beranjak pergi,

kota yang sama yang membuatku tegak berdiri.

Hingar bingar sudut jalan yang takkan pernah mati,

kota yang sama yang membuatku merasa sepi.”

Jakarta, sekarang, adalah satu-satunya yang kupunya. Lagu ini adalah pengingatnya: sesuatu yang membuatmu ingin  pergi, bisa jadi adalah penyembuh paling berhasil.

Dan siapa tahu, ini keputusan yang tepat.

 

Sisa lagu yang ada tentu saja bisa kurangkai jadi cerita lebih lengkap dalam surat terakhir untuk perjalanan yang paling sia-sia ini. Tapi, kurasa, yang harus aku lakukan saat ini hanya dua: menarik napas perlahan-lahan dan menjaga hatiku sendiri.

Semoga hidupmu menyenangkan dan kamu berhenti merasa sendirian.

 

Terima kasih untuk album Mantra Mantra-nya, Kunto Aji.

 

Jakarta, 29 November 2019

Aprilia Kumala

23 comments

  1. Memang frekuensi yang dipilih Kunto Aji dalam album ini memang mengandung banyak makna ditambah dengan lirik menusuk dalam dan terbebas dari makna

  2. “Saudade.” kutemukan kata asing ini saat drakor itu membuatku malu berlinang diakhir episodenya… “Crash Landing On You”. Menakjubkan. Rasa kehilangan yang indah. Terima kasih untuk tulissnmu, Aprilia Kumala. Keep up the good work!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *