Menulis dan Tidak Bunuh Diri

“Au, aku mau ngomong.”

“Apa?”

“Aku… udah keterima kerja. Di Jakarta.”

Raut muka Au berubah. Sore kami jadi canggung. Aku pulang. Au mengirimiku WA: “Aku merasa perpisahan jadi semakin dekat.”

Aku, mendadak, benci kalender. Aku nggak ingin Oktober datang.


Sebulan sebelumnya.

Seseorang pernah menulis: Menulislah dan jangan bunuh diri. Aku membacanya selewat saja di lini masa. Kupikir, siapa yang mau bunuh diri?

Yang tidak aku tahu, bermalam-malam setelah itu, aku pernah meletakkan gunting di atas nadi kiriku, menimbang-nimbang apakah rasanya bakal sesakit itu, dan apakah prosesnya bakal cepat. Kalau beruntung (atau tidak?), mungkin aku bakal langsung bertemu kakekku di surga dan segalanya akan baik-baik saja. Tapi kalau tidak, mungkin aku harus menghabiskan sisa hidupku sendiri dengan ceramah dan ketakutan orang lain; sesuatu yang tidak akan aku sukai.

Gunting tadi tidak jadi kupakai dan aku tidak tahu mana alasan yang kupilih: karena aku takut kesakitan, atau karena ia terlalu berbau bumbu mi instan sampai-sampai aku tak rela darahku bercampur sisa-sisa kecap dan saus. Yang paling kuingat, malam itu terasa panjang sekali dan aku malah mengambil hape untuk menulis tebak-tebakan garing yang terpikirkan mendadak di kepalaku:

“Orang, orang apa yang nggak makan bakso di Solaria?”

Kutulis kalimat tadi di draft. Hanya satu orang yang kupikir pantas kukirim tebak-tebakan, tapi kami sudah tidak berbicara selama, kurasa, hampir satu bulan.

Aku mematikan lampu kamar. Menyalakan surat apa saja dari aplikasi Alquran di ponsel. Mengunci pintu. Berpura-pura lupa kalau ingin menangis. Mematikan kipas angin karena udara dingin selalu membuat badanku bentol-bentol. Naik ke kasur. Menarik selimut.

Aku tidak boleh kalah, bisikku kali itu.

Tapi sebenarnya, kupikir aku sudah kalah sejak awal.

(source: www.pixabay.com)

Sebulan setelah sebulan sebelumnya.

Pak Herman; nama driver Go-Food yang mengirimiku chat “sesuai-aplikasi-ya-mbak?”, muncul lagi malam ini. Eh, atau pagi, karena ini masih pukul 1 dini hari. Warung nasi yang kupesan selalu sama dan Pak Herman selalu jadi orang yang mengantarkannya: sarapan, makan siang, dan makan malamku sekaligus dalam satu porsi ayam geprek yang aku tahu betul bakal membuatku diare setiap pukul 8 pagi, tapi selalu kuulang tanpa berhenti.

Malam tanpa makanan dari Pak Herman memang lebih sering terjadi; terutama kalau aku memilih minum 2 gelas kopi semalaman sampai azan Subuh di working space langgananku. Tapi, temanku bilang aku bisa bangkrut kalau ke sana terus dan kupikir dia ada benarnya. Aku bosan kalau harus pergi terus ke ATM untuk mengambil uang, hanya kemudian untuk merasa kesal melihat nominal yang terus berkurang.

Aku tidak pernah mengizinkan orang lain masuk ke kamarku karena ia lebih kacau dari kapal pecah atau apa pun yang porak-poranda. Kurasa ini aman karena ibu dan ayahku tak ada di sini. Hidupku bakal tetap terlihat baik-baik saja setelah pintu kamar kukunci dari luar dan sepeda motorku berjalan. Tidak bakal ada yang terlihat aneh. Tidak ada, sama sekali.

Kecuali satu hari kala itu, waktu sebuah sesi konsultasi menghadapkanku pada pertanyaan: Apa yang kamu rindukan dari masa kecilmu?

Aku selalu ragu-ragu. Dan takut. Atau malu. Tapi siang itu, aku harus menahan emosi sambil menjawab dengan segera: “sahabatku, laki-laki, kami selalu bersama-sama sejak bayi, tapi kami berpisah waktu aku pindah rumah dan itu membuatku benci perpisahan, dan dia punya pacar, dan dia masuk ke sekolah yang berbeda, dan perceraian orang tuanya membuatnya jauh lebih diam dan menutup diri, dan tiba-tiba kami tidak berkomunikasi, dan sekarang dia sudah menikah dan punya anak, dan aku bahkan tidak mendapat undangan pernikahannya.”

Wanita di hadapanku menatapku dalam-dalam sembari aku mengatur napasku kembali. Pertanyaan selanjutnya diberikan, tapi mendadak aku cuma ingin pulang dan menutupi kepala dengan selimut.

“Mau cerita soal Ayah dan Ibu?” tanyanya. Aku gantian menatapnya dalam-dalam dan bertanya-tanya apakah ini ide yang bagus dan benar-benar bakal membantuku.


Ada sebuah hari yang paling aku suka.

Sudah lama sekali aku tidak masuk ke dasbor blogku karena lupa membayar tagihan. Tapi, waktu akhirnya kubuka, aku baru tahu ada lebih dari 11 tulisan yang kupasang setelah sesuatu terjadi. Mendadak, kalimat “Menulislah dan jangan bunuh diri” terlintas lagi di kepalaku.

Sambil melihat ikan di kolam kantor dari balik laptopku sendiri, aku mengerti betul mungkin ini perkara adu kuat keyboard laptop dan gunting hitam di kamar.

O tidak, gunting itu sudah tidak pernah lagi kusentuh, tidak pula untuk makan mi instan. Mungkin kubuang, atau aku cuma lupa meletakkannya di mana, tapi kurasa itu justru bagus karena kali ini aku tak perlu lagi repot-repot menggambar kupu-kupu di pergelangan tanganku setiap kali melihat guntingnya ditemukan.

Penerimaan itu mungkin yang paling berat, lebih berat dari berat badanku ditambah berat badan siapa saja di dunia. Menggelikan sekali membayangkan Tuhan mungkin sedang bercanda, atau orang-orang yang paling kamu percaya tahu-tahu berbalik arah dan sepertinya punya hidup yang normal, sementara kamu tak bisa tidur kalau tidak memeluk boneka yang, sayangnya, bakal mengingatkanmu pada kenangan paling menyakitkan.

Tapi, hari itu, di depan kolam ikan kantor, rasanya segalanya akan baik-baik saja. Atau tidak? Entahlah.

Sebuah pesan masuk ke WA. Seseorang yang, untuknya, sudah aku siapkan banyak sekali tebakan dalam folder draft di hape, mengirim pesan pendek.

Sialan, batinku.

Perasaan manusia adalah labirin paling rumit di semesta. Sayangnya, kami masih terjebak.

Kurasa, kami harus keluar bersama-sama; bergandengan tangan ataupun tidak.

 

 

P.S.: Sesi konsultasi berlanjut bahkan setelah adegan kolam ikan. Kurasa wanita yang senyumnya menenangkan itu bicara hal yang benar: aku harus berhenti berpikir terlalu banyak.

 

Sudah membuat keputusan,

Yogyakarta, 28 Oktober 2019,

Lia.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *