Jogja yang Baik, Jogja yang Aneh

Tadi pagi aku naik lift di gedung bertingkat untuk pergi ke lantai 3. Hari masih terlalu pagi setidaknya kalau dibandingkan dengan jam berangkat ke kantor setiap Senin. Tapi tidak apa-apa, aku sudah melek 100 persen.

Tadi pagi aku naik lift di gedung bertingkat untuk pergi ke lantai 3. Ngomong-ngomong soal lantai 3, aku jadi ingat bahwa di perjalanan berangkat tadi, aku melewati rumah nomor 39 lagi. Warnanya masih hijau dan dilewati asap motor. Bahkan saat bunyi “Ting!” di lift berbunyi, aku masih mengenang rumah nomor 39 yang centil.

Lantai 3 ini terlampau ramai, tapi untungnya aku punya teman mengobrol yang datang dari Malang. Kau tahu, kami bahkan sudah bertemu sejak di tempat parkir.

Dan dimulailah: Ia bilang, tinggal di Jogja menyenangkan sekali.

Katanya, tinggal di Jogja adalah bahagia.

Ah, I thought the same. Dulu.

bicara (source: www.pixabay.com)

Sepulang dari gedung lantai 3, aku rindu warung nasi yang pertama kali kudatangi 8 tahun yang lalu. Kukira ibu yang sigap mengambilkan lauk itu sudah lupa, tapi coba tebak, apa yang dia bilang?

Dia menyapaku dan bertanya kenapa sudah lama sekali aku tidak datang.

Tadinya aku cuma mau makan sayap ayam dan sayur sawi, tapi mendadak aku ingin memeluk ibu warung.

Maksudku, tidakkah manis sekali mengetahui bahwa seseorang sudah menunggumu sekian lama dan tetap menyambutmu dengan baik?

Dan, hey, ini cuma bakal terjadi di Jogja, karena ibu warung itu, kan, cuma satu di dunia ini.


Hari ini berakhir dengan bahagia karena teman-temanku mau kuajak ke Mathonos yang tempatnya cantik dan cukup sepi. Mereka terobsesi pada foto minuman untuk dipasang di Instagram Story, jadi kami menghabiskan waktu cukup lama untuk mencari angle yang pas.

Tapi, sesuatu kembali menghantamku soal Jogja, saat salah seorang dari mereka menghela napas tiba-tiba, setelah memberi filter pada fotonya, lalu berkata,

“Selain kamu, temanku yang lain juga bakal pergi dari Jogja.”

Tidak, dia tidak mengucapkannya sambil menangis padahal kupikir itu akan menjadi dramatis. Kurasa dia bersikap cukup fair mengingat dialah orang yang pertama kali mendengar keputusan dan alasanku.

Dan dia, saat itu, tidak membantah sedikitpun.

Dia mengerti, sahabatku itu.

Tapi malam ini, dia membuatku sadar bahwa waktu buat pergi sudah semakin dekat. 

(source: www.pixabay.com)

Hari ini aneh sekali. Rasanya panjang, tapi informasi yang kuingat cuma sepotong-sepotong: Rumah nomor 39, Mathonos, pujian soal Jogja, keluhan sahabatku, hingga perihal ibu warung.

Tapi, begini.

Setelah bertemu lagi dengannya siang ini, kurasa aku memang tak perlu sok cuek dan tak peduli:

Nyatanya, aku merindukan sayap ayam masakan ibu warung dan tak keberatan datang lagi ke Karangmalang hanya untuk duduk di dekat toples kerupuk yang warnanya sudah pudar. Bahkan setelah bertahun-tahun lamanya, rasanya tetap sama dan tak berubah.

Sungguh, aku menyukainya.

Pun begitu pada Jogja:

…aku sangat menyukainya.

Hanya saja, kadang, Jogja rasanya terlalu aneh dan mengherankan. Mungkin, aku memang butuh rehat suatu hari. 

Iya, kan?

 

 

Yogyakarta, 24 (eh, masuk 25!) Agustus 2019,

Lia

4 comments

  1. Jogja memang aneh. Dulu saya bersumpah mati-matian engga akan pernah ke sana (karena kental klenik, dll). Sekarang saya mati-matian berusaha supaya engga rindu datang ke sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *