Daniela, Daniela, dan Daniela

#1 Daniela Mercado

Di serial Amigos X Siempre, ada tokoh yang menjadi favorit saya, bernama Lourdes. Pemerannya tidak seterkenal Belinda Peregrin Schull yang jadi Ana, atau Martin Ricca yang jadi Pedro. Di banyak majalah saat itu, sedikit sekali yang mengulas tentang si pemeran Lourdes, padahal mereka juga menulis tentang pemeran Santiago, Renata, bahkan Salvador.

Tapi, pada akhirnya, saya menemukan nama asli pemeran Lourdes: Daniela Mercado.

Ah, omong-omong soal Amigos X Siempre, mereka super terkenal pada masanya. Favorit saya adalah penampilan mereka di episode terakhir—sepertinya diambil dari semacam gelaran konser yang benar-benar terjadi di Meksiko—dengan banyak sekali penonton dalam stadion.

Daniela Mercado juga datang, menari di atas panggung dengan baju berwarna merah yang cantik—tentu saja di belakang Belinda dan Martin.

#2 Daniela Lujan

Telenovela berikutnya yang muncul setelah Amigos adalah Complices al Rescate atau di SCTV judulnya menjadi Mariana dan Silvana . Pemerannya masih sama, yaitu Belinda, hanya saja kali ini ia dipasangkan dengan aktor bernama Fabian.

Segalanya berjalan mulus-mulus saja, hingga akhirnya di paruh episode-episode akhir, Belinda digantikan oleh seorang aktris muda bernama Daniela Lujan.

Ada kabar yang menyebutkan bahwa Belinda terlibat perseteruan dengan pihak sutradara/produser. Apa pun itu, Daniela—yang bukan pemeran Lourdes—akhirnya menjelma menjadi Mariana dan Silvana dalam telenovela dan memberi kesan yang, menurut saya, berbeda sekali dengan Belinda.

Tapi, walaupun agak kecewa, saya suka sekali mendengar Daniela Lujan menyanyikan “Por Tu Amor” yang jadi salah satu soundtrack telenovela tadi.

#3 Daniela Andrade

Kecuali Daniel Radcliffe yang berperan sebagai Harry Potter di serial yang paling saya sukai seumur hidup, saya tadinya tidak menemukan nama Daniela lagi, atau minimal; mendekati—seperti Daniel. Nama Daniela bahkan lama-lama jadi biasa saja—saya jauuuh lebih tertarik dengan nama Luna, seperti pada tokoh Luna Lovegood di Harry Potter.

Sampai suatu hari, saya menemukan video cover lagu “La Vie en Rose” oleh seseorang bernama Daniela Andrade.

Setelah lagu ini, dan setumpuk lagu yang dinyanyikan Daniela lainnya, saya tahu saya bakal menyimpan semua lagunya dalam jangka waktu yang panjang sekali.


Saya pernah bilang pada seseorang, dalam Harry Potter, DA berarti Dumbledore’s Army, atau Laskar Dumbledore dalam bahasa Indonesia, sedangkan ia juga mewakili inisial nama asli saya di dua kata awal. Plus, kini DA juga menjadi singkatan lain yang tak kalah manisnya: Daniela Andrade.

Pada seseorang ini, saya pernah bilang saya ingin bisa bermain gitar sambil bernyanyi seperti Daniela. Pada seseorang ini pula, saya pernah minta diajari bermain gitar dan dia menyanggupinya, lantas mengirimkan saya sedikit penjelasan soal family chord (yang tidak saya pahami sama sekali, maaf-maaf saja), lalu menyuruh saya mempelajarinya terlebih dulu. Dia juga menyarankan saya berlatih kunci-kunci dasar dulu, sebelum kami sempat mendiskusikan waktu latihan yang tepat—kapan saja saat urusan pekerjaannya tidak sedang menumpuk.

Pada akhirnya, kami tidak berlatih gitar bersama.

Tapi, ada satu hal yang saya ingat sebelum hal itu terjadi: Saya sempat putus asa berlatih kunci dasar sendirian, lalu memilih mengikuti tutorial fingerstyle untuk melodi Romance de Amor. Hasilnya, tentu saja, sangat amatir.

Lagi, kata seseorang tadi, saya sebaiknya berhenti mencoba fingerstyle karena sekarang ini “belum waktunya”.

(source: pixabay.com)

Bicara soal “belum waktunya”, kadang-kadang saya bingung: Apakah semua hal di dunia benar-benar ini punya waktunya sendiri-sendiri?

Maksud saya, apakah pengalaman saya akhirnya menemukan nama Daniela Mercado, misalnya, adalah bukti bahwa semesta ingin saya bersabar dulu dan tetap mengenal si gadis baik hati sahabat Ana itu sebagai “Lourdes” saja?

Ah, Daniela Lujan juga. Apakah kemunculannya dalam Complices al Rescate memang perkara keberuntungan waktu saja? Mungkin saja dia ingin tampil di telenovela tersebut, tapi justru Belinda yang terpilih, dan dia harus merelakan peluang itu, sebelum akhirnya mendapatkan spotlight?

Tentu saja, kalau begitu, Daniela Andrade tak jadi perkecualian. Video cover lagu “La Vie en Rose”-nya sudah ada sejak tahun 2014 dan sudah pernah pula saya lihat di akun Instagram seorang kawan. Tapi, baru tahun 2019 ini saya benar-benar mendengarkannya, lantas membuka hampir semua lagu yang ia nyanyikan.

Jelas, ada jeda waktu di sana.

(source: pixabay.com)

Belum waktunya.

Mungkin, itu yang tiga orang Daniela ingin katakan pada saya—atau lebih tepatnya: yang ingin Tuhan katakan, melalui Daniela, Daniela, dan Daniela.

Dulu, saya suka tertawa membaca kisah pendek serupa: bertemu seseorang di waktu yang salah. Maksud saya, seberapa salah, sih, waktu yang salah itu?

 

Tapi, yah, hidup memang bisa sebercanda itu.

 

Yogyakarta, 20 Mei 2019,

baru saja terkilir di pergelangan tangan kanan,

mengetik jadi sangat menyebalkan,

Lia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *