Rumah Nomor 39

Tadi sore di pinggir jalan, ada rumah yang—baru kali ini—benar-benar aku amati. Warnanya hijau dan di depan pintunya ada dua kursi untuk bersantai. Kesannya cukup vintage, kecuali ide bahwa ia berdiri di pinggir salah satu jalan tersibuk di dunia. Yah, maaf-maaf saja, tapi jalan yang kumaksud ini memang menyebalkan kalau sedang macet.

Ada angka 39 yang terpasang di dindingnya, dan kurasa aku baru saja menemukan contoh rumah yang paling ingin kumiliki seumur hidup. Entah apa sebabnya—mungkin karena kesan hangat yang ia punya atau karena letaknya tidak terlalu jauh dari McD yang punya ayam spicy terenak di seluruh galaksi.

Atau, mungkin saja karena nomornya 39? Bisa jadi. Setidaknya, aku yakin tidak ada kenangan menyedihkan dari angka itu; tidak seperti angka 22, 27, 21, 17, atau bahkan 31 dan 14. Aman.

Rumah nomor 39 yang berwarna hijau itu tidak balas mengedip waktu aku menatapnya lekat-lekat. Dan, kurasa, aku tidak bisa menyalahkannya.

Sepertinya semesta juga ingin bilang begitu: bahwa sebaiknya aku tidak meminta siapa pun untuk balas mengirimkan kedipan padaku.

(source: pixabay.com)

Kakakku bekerja di ibu kota dan ia mendapat keuntungan besar dari orang tua kami: sebuah tempat tinggal yang baik. Katanya, Jakarta keras dan biaya sewa kamar cukup mahal, jadi lebih baik kalau kamu memilikinya sendiri. Katanya pula, ini karena kakak sudah cukup dewasa, bekerja, dan layak hidup sebagaimana orang-orang pada umumnya.

Aku tidak mengikuti keberuntungannya beberapa tahun kemudian saat sebuah perusahaan mengundangku bekerja. Mungkin, ini karena kotaku tinggal hanya di Jogja atau karena aku belum dewasa?

Kurasa, kemungkinan yang kedua cukup kuat. Kadang, kamu tidak akan pernah jadi cukup dewasa untuk sebagian orang.

Tapi tidak apa-apa, kamar kosku cukup menyenangkan. Malah, lebih menyenangkannya lagi, ia menjadi alasanku bekerja, tentu saja karena di awal bulan, ibu kos bakal menagihku sambil tersenyum.

Menyenangkan, walau akhir-akhir ini aku membenci kamar ini dengan alasan yang—ah, sudahlah, ini bukan hal penting.

Jadi, begitulah. Memimpikan rumah nomor 39, kurasa, bukan hal yang buruk.

(source: pixabay.com)

Aku tidak bercerita pada siapa pun soal rumah nomor 39 sebelum ini, termasuk pada seorang kawan yang tadi datang ke kafe di depan kedai kopi kesukaanku. Malah, kami membahas bagaimana ia menyetujui opini yang bilang bahwa aku tampak bitchy jika tidak mengenakan kain apa pun di kepalaku dan bagaimana hidup sebagai seorang istri kelak memintamu untuk meminta izin pada suami kalau ingin pergi, meski sekadar untuk bertemu teman lama.

Aku tidak membayangkan bagaimana hidup setelah pernikahan nantinya. Mungkin, orang yang kelak menjadi suamiku adalah orang yang menyenangkan dan suka tersenyum—karena aku tidak—tapi bisa juga ia sedikit pemarah—karena aku sangat menyebalkan kalau sedang kangen.

Tapi, yah, kamu tak akan bisa menyalahkan perasaan rindu. Kadang, kamu benar-benar ingin bertemu dan bicara dengan seseorang, sampai-sampai semua hal lain di dunia tak ada artinya, kan?

Betul, bahkan kalau “hal lain” itu adalah sebuah rumah bernomor 39 sekalipun.

(source: pixabay.com)

Temanku pernah bertanya kenapa aku harus repot-repot pergi dari kamarku sendiri, alih-alih tidur dan menghabiskan waktu liburku dengan damai. Aku cuma tertawa mendengarnya dan mengingat-ingat: sial, hari ini aku pergi ke mana saja, sih, kok uang di dompetku sudah habis semua?

Aku bersikap sangat impulsif belakangan ini, ke manapun aku pergi, dan itu bukan hal yang bagus. Padahal, kalau bisa dijabarkan, tak pernah ada bahagia di sana—di setiap perjalananku kabur dari apa pun yang aku punya: kamar kos dan kerjaan.

Iya, benar: tidak ada yang benar-benar menjadikan bahagia.

“Tapi setidaknya kamu berusaha. Untuk dirimu sendiri,” kata seseorang di hadapanku. Untuk banyak hal, aku bersyukur belum mengatur jadwal konseling minggu ini karena ternyata kawanku sendiri cukup mampu menohokku dengan segala kata-katanya.

(source: pixabay.com)

 

Rumah nomor 39, entah bagaimana, menjadi satu-satunya hal yang aku ingat dari “pelarianku” hari ini. Bukan Blue Mojito yang pertama kali aku cecap, bukan juga syal Gryffindor yang aku bawa untuk berfoto, meski kubatalkan karena aku terlalu malu berpose.

Rumah nomor 39, di kepalaku, menjadi penanda bahwa hari ini pun aku masih punya kekuatan bertemu sinar matahari.

Bertemu banyak orang. Bertemu kemungkinan.

Bertemu jalanan yang dulu pernah jadi sangat meneduhkan di balik punggung seseorang.

Ah, otakku mulai lagi.

 

(source: pixabay.com)

Sudah cukup, ini cuma akan jadi hal menyakitkan berikutnya. Aku belum bisa mengontrol isi kepalaku sendiri dan aku tidak bisa berhenti melihat layar hapeku dan—ini lebih konyol—arah pintu masuk bangunan tempatku bertapa.

Padahal, jelas, tidak bakal ada yang datang tiba-tiba dari sana. Tidak bakal pula ia duduk dan bertanya hal-hal aneh, seperti misalnya kenapa pergelangan tanganku sekarang ditempeli tiga plester koyo panas sekaligus.

Benar. Bahkan tanganku tidak bisa diajak berbahagia hari ini. Untung saja ada rumah nomor 39.

 

Yogyakarta, 19 Mei 2019

Lia

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *