Bagaimana Kita Berpikir Kita Bertahan, Padahal Tidak

Catatan: Mungkin tulisan ini akan sedikit mengandung spoiler film 27 Steps of May, jadi lebih baik kamu mempertimbangkan dengan cukup bijaksana: untuk membaca ini atau tidak membaca.

“She needs routine. That’s how she survives.” – Film 27 Steps of May


Namanya May, dan dia adalah tokoh utama dalam film 27 Steps of May. Kami—aku dan seorang teman—berusia 27 pada tahun ini (aku sudah, temanku baru akan, dalam beberapa minggu) dan kurasa bakal jadi menarik kalau kami menonton film dengan angka yang identik dengan usia kami.

Yang tidak aku tahu, film ini—apa ya—bakalan cukup “menamparku”.

Di hari pertama bulan Mei, hal yang kulakukan selain mengenang setiap jengkal bulan April yang baru lewat adalah bangun dan pergi ke luar selepas azan Ashar. Badanku seperti hancur lebur sejak seminggu lalu, tapi seorang kawan mengajakku bertemu. Kurasa, sebelumnya aku telah melempar sekitar seratusan gelengan kepala—berlindung dengan kalimat “kerjaanku banyak sekali”—dan sepertinya tidak fair kalau kali ini aku menghindarinya lagi.

(source: montasefilm.com)

Apa yang terjadi pada May adalah tragedi. Diperkosa adalah jelas hal yang paling tidak ingin kita alami dan rasanya para pemerkosa ini pantas dihukum membusuk di neraka bahkan hingga seluruh kehidupan di dunia berulang jutaan kali. May, dalam film ini, sayangnya, mengalami pemerkosaan.

Film berkisah soal delapan tahun setelah kejadian tadi.

May tinggal dengan ayahnya. May bertahan di dalam kamar, sementara ayahnya bertahan menghadapi May yang diam seribu bahasa. Kami semua diajak melihat bagaimana May melakukan rutinitasnya: skipping, tidur, bangun, menyetrika pakaian, merapikan rambut, menghitung boneka, membuka pintu, memasukkan meja, mengeluarkan boneka yang sudah jadi, memasukkan boneka yang akan dibuatkan pakaian, menjahit pakaian boneka, hingga makan bersama ayahnya dengan menu serba putih.

Ayah May yang turut diam menanggapi diamnya May tidak pernah berhenti lelah menaruh perhatiannya lewat makanan atau apa pun yang ia bisa, termasuk mengepang rambut boneka yang ia kerjakan bersama May. Seluruh boneka yang jadi hari itu akan diberikan pada kurir boneka yang setiap pagi datang mengantarkan boneka baru untuk dibuatkan pakaian.

Ayah May seorang petinju. Atau sebaiknya kita sebut: orang yang menyalurkan emosinya lewat pukulan dan teriakan. Bertahan dengan May tanpa suara tentu membuatnya perlu mengeluarkan emosi. Apalagi, kami semua tahu betul apa yang terjadi di dalam dirinya: ia menyesali setengah mati atas apa yang terjadi pada May dan ia terus menyalahkan dirinya sendiri sebagai ayah yang tidak bisa menjaga anak perempuannya.

(source: pixabay.com)

May dan ayahnya bagaikan dua pribadi yang sekarang dengan santainya mengambil alih kepalaku.

Sejak hampir tiga bulanan lalu, aku menghindari bertemu orang-orang kecuali teman-teman kantorku sendiri. Atau keluargaku—kalau aku kebetulan pulang atau mereka yang datang, karena aku lama sekali tidak kembali ke rumah.

Sejak hampir tiga bulanan lalu, aku lebih sering pergi sendiri, melihat jalanan sendiri, melakukan hal-hal aneh sendiri, lalu mengulangnya lagi dan lagi, seakan-akan aku tak bakal bisa hidup kalau harus berhenti.

Selepas kerja, kamar kos adalah musuh. Jalanan yang ramai dan penuh asap rasanya jauh lebih menyenangkan. Bahkan sampai malam, kamar kos tetap menyebalkan—ia cuma akan membuatmu teringat betapa seseorang pernah duduk di sana, bercerita padamu dan mendengar leluconmu, lalu meninggalkan ruang kosong yang menganga di kepala. Itulah sebabnya aku selalu bersikeras bahwa kedai kopi di balik jalan ini menjadi tempat pulang paling aman—ia mengizinkanku duduk dan bekerja sampai pagi.

Sampai pagi—sampai azan Subuh kedengaran, sampai aku kembali ke kamar, tidur sebentar, meletakkan pakaian kotor di tempat yang sama, menumpuk bantal, mengenakan riasan, lalu pergi bekerja, dan begitu seterusnya. Berulang kali.

(source: pixabay.com)

Mengiyakan ajakan bertemu hari ini adalah langkah yang besar. Beberapa hari yang lalu, aku melakukan hal yang sama pada temanku yang lain—menolak untuk memberi penolakan agar kami bisa bertemu.

Dan kurasa itu cukup monumental.

May melakukan hal yang sama. Setelah sekian lama ia mengurung dirinya sendiri, ada momen dia keluar melalui lubang di dindingnya dan berkomunikasi dengan seorang pesulap. Tapi aku paham betul apa yang menghantuinya kemudian: setiap usapan, sentuhan, bahkan tarikan tangan ayahnya sendiri yang ingin menyelamatkannya dari kemungkinan terkena musibah kebakaran saja bisa menghidupkan kenangan buruk di kepalanya, bukan?

Sama, aku juga.

Tidak, aku tidak ingin bilang bahwa pemerkosaan adalah luka yang remeh. Sekali lagi, aku mengutuknya, hanya saja kalau bicara soal ketakutan dan trauma, kurasa memang beginilah fasenya.

Pertemuan dengan tiga orang secara terpisah—yang dulu aku hindari mati-matian karena semuanya berhubungan dengan masa lalu yang paling ingin aku lupakan—adalah tantangan sebenarnya. Dan ketakutanku bukan isapan jempol—selalu ada obrolan yang mengarah ke sosok di masa lalu yang paling aku hindari itu.

Lukanya—ya, benar—masih sedikit terasa. Malah, ia jadi menyeruak lebih besar, mengingatkanku pada seseorang lain yang sekarang masih duduk manis di kepalaku—seseorang yang untuknya aku putuskan untuk melepas segala takut dan trauma di masa lalu tadi, hanya untuk mendapat trauma baru lagi.

Rasanya… seperti orang bodoh.

(source: pixabay.com)

Ayah May menyimbolkan hal yang lain—hal yang juga tak kalah manusiawinya.

Ia menyimpan penyesalan besar—bahkan lebih besar daripada yang kamu bayangkan. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi, lantas butuh pelampiasan setiap kali sesuatu terjadi pada May.

Selama delapan tahun, ia tak henti menyiksa dirinya sendiri.

Terasa familier, setidaknya bagiku. Aku cuma bisa terkekeh geli mengingat bagaimana selama hampir 9 bulan belakangan—iya, sudah selama itu—aku membenci diriku sendiri. Tas laundry-ku membesar, kasurku penuh kuman, kamarku lebih mirip gua rahasia bawah tanah, sarapan yang dimulai pukul 1 pagi sementara sisanya diisi dengan air putih dan es kopi, rem motor berdecit tanpa dibawa ke bengkel, dan hal-hal bodoh lainnya.

Mengurus diri sendiri rasanya seperti racun. Ini jauh lebih kompleks daripada kebiasaanku yang menghapus foto profil WhatsApp setiap kali merasa sedih dan marah mendadak.

(source: pixabay.com)

“It happened. There’s nothing you can do about it now. It happened.”

Begitulah teriakan yang diterima ayah May suatu hari. Cerita dalam film tak berhenti membuatmu merasa ingin berteriak dan menangis, hingga di bagian akhir May berhasil menerima dirinya sendiri setelah sebuah pergolakan besar yang ia simbolkan bersama sang pesulap: May mengenakan baju serupa seragam SMP-nya (saat-saat di mana ia diperkosa), menaiki meja, dan berteriak-teriak—membuat si pesulap kebingungan.

Luka yang May rasakan mungkin meluap dan kepalanya seakan memutar paksa kenangannya saat itu.

Tepat seperti itulah bagaimana sebuah ketakutan besar bakal membuatmu merasa: tidak aman.

Dan, saat perasaan itu muncul, kamu butuh orang yang tepat untuk menemanimu, atau setidaknya dirimu sendiri, untuk benar-benar menerima apa yang terjadi—tanpa menghakimi siapa pun habis-habisan.

Setidaknya, begitulah yang ingin May sampaikan, setelah pada pagi harinya ia memeluk sang ayah dan berkata, “It’s not your fault.”

(source: pixabay.com)

Tapi, May—entahlah. May telah melaluinya selama delapan tahun untuk sebuah peristiwa yang sangat besar, sedangkan apa yang aku jalani saat ini masih sangat basah dan baru. Kupikir aku tak bakal menangis lagi, tapi 27 Steps of May dengan sialannya mengupas emosi itu lagi.

Satu per satu.


Selepas film diputar, aku lupa bagaimana caranya aku pulang melewati jalanan malam hari. Tahu-tahu, aku sudah sampai kamar kos, lalu bersiap pergi ke kedai kopi seperti biasa.

Yang aku ingat cuma satu: mataku tidak kering saat aku berhasil membuka kunci pintu kamar dan aku harus menambal bekas air mata dengan bedak tabur di atas kasurku yang berantakan.

 

Dan mendadak, aku rindu seseorang.

Rindu sekali, sampai-sampai kukira aku bakal mati rasa.

 

 

Yogyakarta, 2 Mei 2019, dini hari,

Lia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *