Writer’s Block Berkepanjangan

Cerpen Pertama, Part 1

Setiap Kamis saat SD, saya menanti-nanti kedatangan Majalah Bobo. Di majalah kesukaan saya ini, rubrik yang saya baca hanyalah cerita bergambar: cerita Bobo, cerita dari Negeri Dongeng (Nirmala dan Oki), cerita Paman Kikuk, Husin, dan Asta, sampai cerita Bona dan Rong-Rong. Selesai membaca rubrik-rubrik tadi, majalah akan selalu saya tutup dan kembalikan. Saya tahu betul di sana ada rubrik Cerpen dan Dongeng, tapi tak sedikitpun saya tertarik. Ga ada gambarnya, ga menarik! Ya, terlalu banyak huruf, bagi saya.

Suatu hari, semua komik saya sudah habis dibaca. Majalah Bobo pun sudah saya baca ulang, khususnya di rubrik-rubrik cerita bergambarnya. Saya kehabisan bacaan dan rasanya menyebalkan.

Iseng, saya buka rubrik Cerpen dan membaca paragraf pertama, hingga berlanjut sampai paragraf terakhir.

 

 

Sumber: pixabay.com

Mungkin, Tuhan, pada hari itu, sedang menjadi penyusun rencana super ampuh bagi saya. Entah kebetulan atau bukan–saya masih ingat betul–cerpen yang saya baca pertama kali itu menceritakan seorang anak perempuan yang tidak suka membaca cerita yang panjang! Bahkan setelah didesak ibunya pun, tak sedikit minat membaca itu muncul. Baginya, bermain lompat-lompatan di kasur jauh lebih mengasyikkan (saya ingat gambar ilustrasinya adalah si tokoh perempuan ini berdiri di atas kasur). Jalan ceritanya tidak saya ingat dengan jelas, tapi pada akhirnya ia jadi sangat menyukai membaca cerita. Yang saya ingat, selesai membaca cerpen itu, saya bengong sejadi-jadinya, lalu tertawa sendirian karena merasa kebetulan itu super lucu.

Sejak hari itu, saya selalu membuka kembali Majalah Bobo dan membaca semua rubrik Cerpen dan Dongeng yang dimuat.


NOVEL TEBAL PERTAMA

Ulang tahun saya yang ke-9 tinggal hitungan hari kala itu. Papa tiba-tiba berbisik dan bilang bahwa ia punya hadiah spesial untuk saya. Clue-nya: “11 huruf, dimulai dari huruf H”.

“Handphone?”

“Bukan, itu 9 huruf.”

Kakak saya ikut-ikutan berpikir karena papa saya bilang hadiah ini bisa digunakan bersama. Tidak ada petunjuk tambahan–papa hanya bilang bahwa hadiah ini sesuai dengan apa yang pernah kami minta.

Singkatnya, datanglah hari itu, hari di mana papa menunjukkan sesuatu di balik punggungnya: buku Harry Potter yang ketiga, yaitu Harry Potter and the Prisoner of Azkaban. Kakak saya kegirangan, saya ikut-ikutan. Kakak saya mencintai membaca, sebuah contoh nyata darimana saya mendapatkan kebiasaan itu. Selama beberapa hari belakangan, kami mendengar sebuah kisah magical tentang seorang anak penyihir bernama Harry Potter. Karena penasaran, kami meminta papa membelikan bukunya. Sayangnya, buku Harry Potter ternyata cukup mahal, berbeda dengan buku komik yang saat itu saya koleksi.

Walaupun papa membeli buku seri ketiga, saya tetap mencoba membacanya, bergantian dengan kakak. Lucunya, saya tidak tahu maksud dalam cerita. Ada orang yang disebut sebagai Dia-yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut, ada juga tokoh yang bernama Hermione, yang tidak saya ketahui bagaimana cara melafalkannya!

Tapi, entah kenapa, walau harus bersusah payah dan tidak sepenuhnya mengerti, saya baca sampai halaman terakhir.

Sumber: raffaridhan.blogspot,com

 

Cerpen Pertama, Part 2

Gara-gara membaca cerpen dan serial Harry Potter, saya mulai membayangkan rasanya menulis sendiri. Nama J.K. Rowling tiba-tiba saja melesat menjadi penulis favorit saya selain Enid Blyton yang saat itu bukunya pun selalu saya baca di perpustakaan sekolah. Selang beberapa hari, saya benar-benar mencobanya!

Di luar dugaan, menulis membuka dunia baru bagi saya. Dengan bermodalkan pulpen dan kertas, atau listrik untuk disambungkan pada PC, saya bisa duduk diam menulis 3 sampai 4 halaman cerpen. Cerpen pertama saya berjudul Dadu yang Hilang. Tokoh dalam ceritanya adalah anak-anak SD yang bermain monopoli dengan dadu, di mana kemudian dadunya hilang. Ternyata, salah satu dari mereka sengaja mengambilnya untuk dibawa pulang. Cerita diakhir dengan adegan bersalaman dan saling meminta maaf, lalu bermain monopoli lagi!

Sumber: pixabay.com

Saya lupa nama tokoh ciptaan saya, tapi kadang-kadang saya berpikir keras…

apa yang sedang dilakukannya sekarang?


Cerita-cerita ini berlanjut…

J.K Rowling menuliskan kisah soal Harry-nya hingga tahun ketujuh, bahkan 19 tahun setelahnya, lewat Harry Potter and the Cursed Child. Tulisannya tidak berhenti di halaman terakhir; ia tetap menciptakan dunianya, sebagian melalui situs Pottermore. Ginny yang sempat menjadi editor bagian olahraga di Daily Prophet atau Ron yang membantu usaha George selepas meninggalnya Fred pun disebutkan dengan cermat.

Enid Blyton pun demikian. Ia menulis pengalaman Lima Sekawan ataupun Sapta Siaga lebih dari satu kasus. Kejadian tempat A bisa berhubungan dengan tempat B. Masa liburan kali ini bisa jadi kunci petualangan berikutnya. Menarik!

Sumber: pixabay.com

Rowling dan Blyton memperlakukan tokoh ciptaannya dengan hati, memberinya “hidup” dalam dunia yang berbeda. Isn’t it beautiful?


PAda Cerpen Pertama Saya

Di cerpen yang pertama kali saya baca, kesimpulan yang saya dapatkan adalah bahwa pada akhirnya si tokoh perempuan ini telah sangat menyukai membaca. Dengan asumsi umur kami sama, apa yang sedang ia lakukan hari ini di usianya yang 25 tahun? Apakah dia juga bekerja sebagai editor? Atau ia menjadi model dan mendaftar ajang Putri Indonesia? Well, lompat-lompat bisa membuatmu lebih tinggi, ‘kan…

Di cerpen yang pertama kali saya tulis, ada segerombolan anak SD yang bersahabat. Apakah mereka masih bersahabat sekarang? Apakah jika mereka bertemu, mereka akan kembali bermain monopoli dengan dadu sejak 14 tahun yang lalu? Apakah tokoh yang mengambil dadu tanpa izin itu kini malah menjadi tukang ngutil?

Lalu, pernah pulakah mereka bertanya-tanya, apa dan bagaimana kabar hidup yang saya alami sekarang?

Sumber: pixabay.com

Keajaiban mutlak sebuah cerita

Kadang saya berharap-harap sendiri, karakter dalam cerita bisa muncul dan saya temui. Sedikit mengerikan, tapi exciting di sisi lain. Bagaimanapun, saya tidak ingin terdengar ataupun bersikap terlalu maniak dan fanatik pada cerita, tapi nyatanya sebuah kisah pun bisa menyentuh hatimu, sekalipun kamu mencoba menyangkalnya.

Sejauh ini, buku-buku yang saya baca sering kali mengingatkan saya pada sesuatu, seperti Harry Potter mengingatkan saya pada papa, Sapta Siaga dan Lima Sekawan mengingatkan saya pada SD saya, ensiklopedia apapun mengingatkan saya pada Pak Wadi (penjaga perpustakaan SD), suplemen anak dari Majalah Umi mengingatkan saya pada mama, novel misteri mengingatkan saya pada sahabat kecil saya, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, memori-memori ini tak jarang saya “muntahkan” pula dalam bentuk tulisan yang lain. Misalnya: cerpen saya yang dengan mengharukannya menjadi runner-up di tahun 2009 menjadi kenangan kecerobohan saya semasa SD dan SMP (padahal cerpen itu akhirnya dipublikasikan saat SMA), cerpen saya yang menganalogikan petir di tahun 2011 menjadi pengingat kenekatan saya melepas jurusan Farmasi di universitas negeri di Bandung sebelum akhirnya pindah ke Pendidikan Bahasa Inggris di Yogyakarta (baru dipublikasikan tahun lalu dalam antologi yang sempat terkendala penerbitan), hingga novel saya sendiri yang saya putuskan terbit indie, AK-749. Kisah fiksi fantasi ini mungkin tidak pernah saya alami, tapi jelas cerita khayalan itu adalah apa yang selama ini selalu saya bayangkan dalam kepala.

Ya, cerita-cerita bisa seajaib itu; ia mengingatkan saya akan sesuatu sekaligus “mendengarkan”. Ia bisa jadi sangat asing, tapi bisa juga sangat nyata dan familiar.

Sumber: pixabay.com

Sekarang?

Tanpa saya sadari, saya terkurung waktu untuk bisa mengeksplor mata saya sendiri. Sedikit sekali buku yang saya baca, di luar pekerjaan saya. Halaman blog pun sering kali saya buka untuk menulis, tapi lalu berakhir pada tombol Close.

Rasanya, saya agak “berdosa” pada si tokoh perempuan di cerpen yang pertama saya baca dan sekumpulan anak SD di cerpen yang pertama kali saya tulis. Lebih-lebih, rasanya saya sangat bersalah pada diri sendiri: apa kabar mimpi saya yang ingin menjadi seperti Rowling dan Blyton?

Sebagai editor, saya masih bisa berjalan. Tapi, sebagai penulis, rasanya saya sedang terbentur tembok.

And it bothers me so much.

 

Padahal tahun ini pun hampir habis.

– Aprilia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *