#ApriliaReview: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared

Judulnya panjang, tapi ia diam dan balik menatap saya dari rak buku toko. Saya ingat kakak saya bilang, “Buku ini bagus,” sambil lalu menunjuk buku yang persis sama seperti ini. Si “kakek” dalam buku tidak mengarahkan matanya pada saya, tapi judul di atas kepalanya cukup “mengundang”.

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared. Atau, dalam bahasa Indonesia: “Lelaki Tua 100 Tahun yang Memanjat ke Luar Jendela dan Menghilang.”

Hmm. Saya rasa, buku ini boleh juga (saya pun segera pergi ke kasir).


40d1387e-420d-4619-ac44-76b70225654b
Hijau, dan katanya “jenaka”. Penasaran?

Judul: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared

Penulis: Jonas Jonasson

Penerbit: Bentang Pustaka

Karena ingin tahu ke mana si laki-laki 100 tahun ini pergi setelah memanjat jendela, saya buru-buru baca setelah segelnya dilepas. Menurut sinopsis di belakang buku, Allan akan menempuh “perjalanan luar biasa yang penuh dengan kegilaan“, dan di saat yang bersamaan, petualangan ini dijanjikan Jonasson akan menjadi pembuka dari kotak pandora tentang “kehidupan Allan sebelumnya“.

Allan Karlsson: Kegilaan Masa Lalu dan Masa Sekarang

Kakek saya meninggal di usia 70, jadi saya benar-benar terkejut karena sejak awal sudah disuguhi adegan seorang kakek-kakek memanjat jendela padahal dia berusia seabad! Dengan sandal rumahan yang sering dikencingi, si kakek ini–Allan Karlsson–memulai cerita dengan pergi menaiki bus yang membawanya ke Stasiun Byringe dan membawa koper hasil curiannya yang mendadak. Di tempat inilah Allan bertemu Julius Jonsson dan mulai dikejar dengan si pemilik koper–anggota klub penjahat Never Again dengan nama samaran “Bolt“. Tadinya, saya kira “kegilaan” Allan cuma sampai di situ–pergi dengan koper orang asing yang ternyata berisi uang. Tahu-tahu, saya “dibawa” Jonasson untuk flashback dan membaca kisah Allan jauh sebelum dia kabur dari Direktur Alice di Rumah Lansia.

Mengejutkannya, Allan yang terlihat tua dan biasa-biasa saja ini, ternyata memiliki latar belakang yang berkaitan dengan dinamit, bom atom, bahkan tokoh politik dunia!

Tapi, meskipun cerita ini terdengar menjanjikan, harus saya akui alurnya sedikit membosankan.

Pembaca dibawa maju-mundur tentang Allan, baik Allan-yang-masih-muda maupun Allan-yang-sudah-100-tahun. Mulanya memang sangat menarik, tapi lama-lama rasanya berat untuk dipahami. Walaupun begitu, “keberatan” ini sepertinya berusaha dibayar Jonasson dengan kejutan-kejutan (baik besar maupun kecil) dalam perjalanan Allan (baik yang beralur maju maupun mundur).

Di cerita flashback Allan, misalnya, Jonasson membawa pembacanya “keliling dunia”, mulai dari “menyelamatkan” Jenderal Franco, berteman dengan Presiden Harry Truman, menyelamatkan diri dan istri Mao Tse-Tung, bermasalah dengan Stalin, menjadi penghuni Camp Gulag, berusaha mengecoh Kim Il Sung, dan masih banyak lagi. Sementara itu, di bagian Allan yang sedang kabur, Allan diceritakan tak sengaja membunuh Bolt (karena ia dan Julius memasukkannya ke pendingin), kabur dengan Jonasson dan Benny-si-mahasiswa-abadi beserta kakaknya, bertemu dengan si Jelita yang punya anjing dan gajah, dengan terpaksa mengakibatkan tewasnya Bucket (teman si Bolt), bergabung dengan si bos mafia, dan lain-lain–yang semuanya dilakukan secara spontan. Bayaran yang harus dikeluarkan Allan: uang dalam koper nantinya dijanjikan untuk dibagi rata (yang praktis menjadikan diri mereka sendiri buron karena membawa kabur uang orang lain, walaupun berita yang beredar di kepolisian tadinya sama sekali berbeda).


“Keajaiban” Allan

Selain gila, saya rasa kata ajaib juga bisa disematkan pada novel ini. Alih-alih hanya novel fiksi biasa yang diberi latar belakang sejarah politik, saya bisa merasakan humor-yang-menampar dalam buku ini. Jonasson, melalui Allan, mengisahkan di bagian awal mengenai tokoh Profesor Lundborg yang “meneliti” Allan. Termasuk menjadi pertanyaannya adalah: Apakah Allan punya darah Negro?

Allan tidak bisa menjawab dengan pasti mengenai hal ini. Namun, di kemudian hari, saat ia bertemu dengan orang berkulit hitam, ia bisa merasakan bahwa dirinya pun sama dengan mereka. Dengan kata lain, perbedaan warna kulit ini bukan menjadi penyebab seseorang bermasalah ataupun tidak. Bukankah ini cara yang cerdas dan ajaib untuk mengkritik diskriminasi warna kulit? 

Lewat keajaiban inilah, komedi satir yang jenaka dan pahit pada waktu bersamaan pun diteruskan. Maksud saya…..siapa juga yang akan bercanda menyebut bom atom dan nama “dalang”nya sekaligus, sih?

Bagian “humor” yang bagi saya sangat terasa adalah ketika tiba saatnya Jonasson membawa Allan dan Herbert Einstein berlibur ke Bali (another magical journey they got, setelah kabur dari tahanan). Diceritakan, mereka bertemu dengan wanita asli Bali yang secara intelektual memang kurang, yang kemudian diperistri oleh Herbert. Karena ketidakmampuan Herbert mengingat nama istrinya sendiri (Ni Wayan Laksmi, sebenarnya), tokoh perempuan ini pun dinamakan Amanda Einstein.

Uniknya, Amanda yang kurang cerdas ini bisa menjadi Gubernur Bali, setelah melakukan beberapa kali penyuapan. Hmm…


Fiksi Rasa Non-Fiksi dan Sindiran untuk Indonesia

Cerita soal Allan memang fiksi, tapi latar belakang sejarah dan politik yang ditampilkan oleh Jonasson membuat buku ini sedikit terasa non-fiksi. Sembari membaca, beberapa kali saya membandingkan dengan catatan sejarah tokoh yang dimaksud. Yang menjadikan cerita ini unik adalah kelihaian Jonasson membangun cerita yang memang cocok dengan sejarah yang ada. Sebagai contoh: karier militer Kim Il Sung yang berjaya di Uni Soviet. Walaupun, tentu saja, tentu ada unsur yang sangat fiksi dan menjadi karangannya sendiri.

Tapi, selain humornya yang disebut fenomenal, Jonasson–dalam buku ini–juga menyebut nama Indonesia dengan diikuti banyak sindiran. Tidak perlu kebakaran jenggot–nyatanya, sindiran ini saya rasa memang tepat dijadikan refleksi diri sendiri.

Sindiran seperti apa yang ditulis Jonasson?

Penggambaran kesalahan Presiden Nixon, presiden AS, yang menyebabkan dirinya harus mengundurkan diri, misalnya. Mengetahui kesalahan Nixon (menggelapkan pajak, dana kampanye ilegal, dan lain-lain), Allan dinarasikan berpendapat bahwa Nixon seharusnya berkarier di Indonesia dengan kelakuannya itu (dan dia merasa Nixon akan berhasil di Indonesia). Ada pula kisah anak Amanda, Mao Einstein, yang bekerja di perusahaan minyak terkemuka di bidang mutu sistem produksi. Sayangnya, “kesalahan” Mao adalah melakukan pekerjaannya dengan benar hingga efisiensi perusahaan meningkat! Kenapa “kesalahan”? Karena ternyata, kecemerlangannya ini diikuti statusnya menjadi orang yang paling dibenci di perusahaan (sampai akhirnya ia memutuskan pindah ke luar negeri).

Pun hingga akhir cerita, Indonesia tetap menjadi negara yang kerap disebut. Rombongan Allan (dengan Julius, Benny, dkk) dikisahkan pergi ke Bali dengan pesawat, sekaligus gajah! Tenang saja, dengan “bobroknya” sistem birokrasi di Indonesia, segala hal digambarkan “menjadi mudah” (dan memang bisa berjalan).

Walaupun ini memang komedi yang satir, sebenarnya cukup sedih juga mengingat negara kita memiliki beberapa orang yang mungkin “sedikit sering lupa”.


Allan, Setelah 100 Tahun

Akhir cerita ini adalah Allan bertemu dengan Amanda, lalu memutuskan menikah, tepat seperti Benny dan si Jelita. Semuanya terasa mudah, ketika tiba-tiba perwakilan Pemerintah Indonesia menghubungi Allan (setelah membaca blog Amanda) untuk melakukan hal yang telah dikenalnya berkali-kali: bom atom.

Secara keseluruhan, buku ini menarik. Saya menikmati sejarah dan politik, sekaligus fiksi. Dengan kerennya, buku ini hadir dan menjadi salah satu buku terlaris di dunia. Namun demikian, saya masih merasa bahwa Kepolisian di buku ini (dari Swedia) cenderung digambarkan begitu “lemahnya” sampai Allan dan rombongannya (termasuk si bos mafia) bisa terbebas sedemikian ringannya–bahkan dengan sebuah cerita karangan. Tak hanya itu, si Inspektur Kepala yang kesepian pun akhirnya bergabung dengan Allan, menjadikan cerita ini sebenarnya sedikit sentimentil sekaligus unbelievable. Tapi, bisa saja itulah yang menjadi komedi satir pertama yang disajikan di buku ini, bukan?

Menarik sekali, Jonasson. Untung saja dia membuat Allan keluar dari kamarnya dengan memanjat jendela. Kalau tidak begitu, kita pasti tak akan tahu semua kisah gilanya yang meledak-ledak, seperti rubah kelaparan yang menjadi serpihan di tahun 2004-an.

After all, kalau kamu tertarik membayangkan sejarah dunia di dunia politik, tidak ada salahnya “berjalan-jalan” dengan Allan Emmanuel Karlsson ini (walaupun dia sendiri benci politik).

 

 

Memberikan buku ini nilai 4 (dari total nilai 5),

Aprilia

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *